Month: January 2019

Penyebab Timbulnya Komedo Di Wajah Dan Hidung

Penyebab Timbulnya Komedo Di Wajah Dan Hidung

Penyebab Timbulnya Komedo Di Wajah Dan Hidung
Penyebab Timbulnya Komedo Di Wajah Dan Hidung

 

Penyebab Timbulnya Komedo – Tidak sedikit orang mengalami masalah dengan yang namanya komedo ini, jujur saja ini sangat mengganggu penampilan kita, baik di rumah apa lagi di luar rumah saat bertemu teman-teman, terlebih lagi untuk bertemu orang terkasih, hal ini terkadang membuat kita tidak PD, minder dan kemudian timbulah sebuah pertanyaan kelasik yakni apa sih sebenarnya penyebab komedo ini, nah di artikel ini saya akan mencoba untuk membahasnya secara tuntas, yang semoga saja setelah mengetahui penyebabnya teman-teman nantinya akan lebih mengerti cara untuk mengobati komedo ini.

Komedo biasanya banyak tumbuh di hidung, ada banyak jenisnya ada komedo yang putih ada juga komedo yang tumbuh hitam di hidung, terkadang juga menimbulkan bau yang tak sedap, Nah untuk cara mengobati komedo akan saya bagikan setelah saya memposting artikel ini, karena yang pertama kita perlu mengetahui dahulu penyebab komedo itu datang di wajah kita, Silahkan saja simak di bawah ini.

Penyebab Timbulnya Komedo Di Wajah

Produksi minyak berlebih di dalam tubuh

Komedo biasanya disebabkan oleh kelebihan produksi minyak, yang cenderung terjadi ketika seseorang mengalami pubertas atau selama menstruasi

Make up yang berlebihan

Dalam beberapa kasus, komedo bisa muncul jika Anda menggunakan pelembap, tabir surya, make up, atau foundation secara berlebihan, sehingga bisa mengiritasi kulit.

Gaya hidup tidak sehat

Merokok berlebihan, terlalu banyak alkohol dan kafein, serta terlalu sering menggunakan make up menjadi penyebab dasar dan umum dari munculnya komedo. Perbanyak minum air – minimal 8-10 gelas per hari – untuk menyehatkan tubuh dan kulit Anda.

Stres

Stres bisa memicu berbagai macam penyakit, termasuk masalah kulit. Kurangi tingkat stres dengan melakukan hal-hal positif seperti meditasi, yoga, berolahraga, membaca buku, dll.

Makanan

Anda adalah apa yang Anda makan! Gorengan, makanan manis dan makanan kaya karbohidrat memiliki dampak besar pada kondisi kulit Anda. Jadi, pastikan bahwa Anda mengurangi konsumsi makanan cepat saji, agar tubuh dan kulit bisa tetap sehat.

Nah itu dia 5 Hal penyebab komedo yang kerap kali mendatangi wajah kesayangan kita, Nanti saya akan mebagikan cara mengobati komedo, di tunggu saja ya, tapi sebelum itu ada baiknya jika teman-teman membaca dahulu artikel kami yang sebelumnya yakni manfaat jus tomat dan juga cara mengobati jerawat, terima kasih.

 

Sumber : http://www.ngegas.com/

 

 

Analisa Golongan V (Mg2+, Na+, K+, dan NH4+)

Analisa Golongan V (Mg2+, Na+, K+, dan NH4+)

Analisa Golongan V (Mg2+, Na+, K+, dan NH4+)
Analisa Golongan V (Mg2+, Na+, K+, dan NH4+)

Pengertian Kimia Analitik Kualitatif

Kimia analitik adalah cabang ilmu kimia yang berfokus pada analisis cuplikan material untuk mengetahui komposisi, struktur, dan fungsi kimiawinya. Secara tradisional, kimia analitik dibagi menjadi dua jenis, kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu unsur atau senyawa kimia, baik organik maupun inorganik, sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu unsur atau senyawa dalam suatu cuplikan.

Analisis kualitatif membahas identifikasi zat-zat. Urusannya adalah unsur atau senyawaan apa yang terdapat dalam suatu sampel atau contoh. Pada pokoknya tujuan analisis kualitatif adalah memisahkan dan mengidentifikasi sejumlah unsur. Analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel atau contoh (Underwood, 1986). Analisis kualitatif membahas tentang pengidentifikasian za-zat yang terdapat dalam suatu sampel. Tujuan utama analisis kualitatif adalah memisahkan dan mengidentifikasi sejumlah unsur. (Underwood, 1986).

2.      Golongan-golongan Kation

Klasifikasi kation yang paling umum didasarkan pada perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat kation tersebut. Kation diklasifikasikan dalam 5 golongan berdasarkan sifat-sifat kation tersebut terhadap beberapa reagensia. (Vogel, 1990).

Golongan-golongan kation memiliki ciri-ciri khas, yaitu:

o   golongan I: membentuk endapan dengan asam klorida encer, ion-ion yang termasuk dalam golongan ini adalah timbal, raksa, dan perak.

o   golongan II: membentuk endapan dengan hydrogen sulfide dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion yang termasuk dalam golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, cadmium, bismuth, stibium, timah.

o   golongan III: membentuk endapan dengan ammonium sulfide dalam suasana netral. Kation golongan ini antara lain nikel, besi, kromium, aluminium, seng, mangan, dan kobalt.

o   golongan IV: membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida dalam suasana netral atau sedikit asam.

o   golongan V: disebut juga golongan sisa karena tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan sebelumnya. Ion kation yang termasuk dalam golongan ini antara lain magnesium, natrium, kalium, dan ammonium. (Vogel, 1990).

Suatu pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sebagian larut, maka setelah dilakukan penyaringan terhadap endapan tebentuk dua kelompok campuran yang massa masing-masingnya kurang dari campuran sebelumnya. Reaksi yang terjadi saat pengidentfikasian menyebabkan terbentuknya zat-zat baru yang berbeda dari zat semula dan berbeda sifat fisiknya. (W. Harjadi, 1993).

  1. Identifikasi Kation-Kation Golongan Sisa (V)

Kation-kation Golongan V (Mg2+, Na+, K+, dan NH4+) dapat diidentifikasi satu persatu tanpa pemisahan pendahuluan. Proses identifikasinya adalah sebagai berikut :

  • Pengolahan Filtrat dari Golongan IV

Filtrat dari Golongan IV yang mungkin mengandung garam-garam Mg, Na, K, dan ammonium diuapkan sampai kering dan dipanaskan sampai semua garam ammonium telah menguap. Adanya residu menunjukkan adanya satu atau lebih dari logam ini. Olah residu yang kering dengan menambahkan 4 ml air, aduk, panaskan selama 1 menit kemudian saring. Residunya diuji terhadap Mg dan filtratnya untuk menguji adanya Na dan K.

Jika residu melarut sempurna (atau hampir sempurna) dalam air, encerkan larutan yang terjadi (jika perlu, setelah disaring) sampai kira-kira 6 ml, dan bagi menjadi tiga bagian yang kira-kira sama. Bagian yang pertama digunakan untuk menguji Mg dengan larutan oksina yang telah disiapkan (pastikan Mg dengan memberlakukan uji magneson kepada 3-4 tetes larutan). Sedangkan bagian kedua dan ketiga digunakan terhadap uji Na dan K.

  • Identifikasi Kation Magnesium (Mg2+)

Residu dilarutkan dalam beberapa tetes HCl encer dan tambahkan 2-3 ml air. Kemudian bagi menjadi dua bagian yang tidak sama.

      Bagian yang lebih banyak.

Olah 1 ml larutan oksina 2 % dalam asetat 2M dengan 5 ml larutan ammonia 2M. Jika perlu panaskan untuk melarutkan setiap oksina yang diendapkan. Tambahkan NH4Cl kepada larutan uji, diikuti dengan reagensia oksina amoniakal yang telah dibuat. Kemudian panaskan sampai mendidih selama 1-2 menit (bau NH3 harus terbedakan). Adanya endapan kuning muda menandakan adanya Mg oksinat.

      Bagian yang lebih sedikit.

Sekitar 3-4 tetes sampel tambahkan 2 tetes reagensia ‘magneson’ diikuti dengan beberapa tetes NaOH sampai basa. Adanya endapan biru memastikan adanya Mg. Uji ini bergantung pada adsorpsi reagensia, yang merupakan suatu zat pewarna, diatas Mg(OH)2 dalam larutan basa maka akan dihasilkan bahan pewarna biru.

Semua logam, kecuali logam-logam alkali tidak boleh ada. Garam ammonium mengurangi kepekaan uji ini dengan mencegah pengendapan Mg(OH)2, dan karenanya harus dihilangkan terlebih dahulu.

  • Identifikasi Kation Natrium (Na+)

Filtrat bagian pertama digunakan untuk mengidentifikasi kation Na. filtrate ditambahkan sedikit uranil magnesium asetat, kocok, dan diamkan selama beberapa menit. Adanya endapan kristalin kuning menandakan Na ada.

Na+ Mg2+ + 3U2 2+ + 9CH3COO  → NaMg(UO2)3(CH3COO)9 ↓

Pengendapan yang paling baik untuk ion-ion natrium adalah pengendapan dengan uranil magnesium atau zink asetat. Uji nyalanya akan menghasilkan warna kuning kuat yang bertahan lama (khas). Runutan natrium mungkin terbawa masuk dari reagensia selama nalisis, maka sangat penting untuk memperhatikan warna kuning kuat yang muncul dan bertahan lama. Jika warnanya kuning lemah maka boleh diabaikan.

  • Identifikasi Kation Kalium (K+)

Filtrat ditambahkan dengan sedikit larutan natrium heksanitritokobaltat (III) atau kira-kira 4 mg zat padatnya dan beberapa tetes asam asetat encer. Aduk-aduk, dan jika perlu diasamkan selama 1-2 menit. Adanya endapan kuning K3[Co(NO2)6] menandakan adanya K.

3K+ + [Co(NO2)6]3- → K3[Co(NO2)6] ↓

Endapan tak larut dalam asam asetat encer. Jika ada natrium dalam jumlah yang lebih banyak (atau jika reagensia ditambahkan berlebihan) terbentuk suatu garam campuran, K2Na[Co(NO2)6]. Endapan terbentuk dengan segera dalam larutan-larutan pekat, dan lambat dalam larutan encer, pengendapan dapat dipercepat dengan pemanasan.

Pastikan dengan uji nyala dan lihat melalui dua lapisan kaca kobalt warna merah (biasanya tidak tetap (transien)). Sebaiknya kaca kobalt itu diuji dengan garam kalium untuk memastikan bahwa kaca itu baik kondisinya. Pada beberapa contoh kaca kobalt menyerap sama sekali garis-garis merah kalium. Oleh karena itu dianjurkan untuk memakai spektroskop sederhana bila tersedia.

Baca Artikel Lainnya:

Spesifikasi Meizu M3 Note Android Octacore Lollipop Harga Murah

Spesifikasi Meizu M3 Note Android Octacore Lollipop Harga Murah

Meizu M3 Note
Meizu M3 Note

Meizu M3 Note Merupаkаn smаrtphone terbаru yаng disiаpkаn Meizu mobile yаng аkаn merаmаikаn sekmen kelаs entry-level. Pаsаlnyа Meizu M3 Note ini sаngаt fenomenаl kаrnа memiliki spesifikаsi sаngаt tinggi dаn sаlаh sаtu bukti dаri Meizu M3 Note ini sudаh dilengkаpi dengаn Figerprint Sensor dаn memiliki ukurаn lаyаr yаng terbilаng jumbo dengаn bentаng lаyаr berukurаn 5.5 inchi yаng memiliki resolusi Full HD 1080p yаng terdаpаt kаmerа disisi belаkаng berukurаn 13MP, LED flаsh dаn kаmerа disisi depаn berukurаn 5MP yаng support untuk foto selfie.

Kelebihаn Meizu M3 Note

Meizu M3 Note аkаn berjаlаn di sistem operаsi аndroid milik Lollipop 5.1 sertа sistem аntаrmukа menggunаkаn user interfаce flyme UI. Untuk memberi dаyа tаhаn lebih, bаterаi pаdа ponsel mengаdopsi bаterаi jenis Li ion berukurаn 3200 mAh sehinggа pаstinyа sаngаt аwet dаn bisа bertаhаn sаmpаi sehаriаn. Kemudiаn sobаt jugа аkаn dibаntu oleh jаringаn 4G LTE yаng cocok untuk internetаn, browsing dаn downloаd. Akses kecepаtаn internetnyа sаnggup mencаpаi titik tertinggi 300 mbps. Selаin itu, fitur koneksi lаinnyа seperti bluetooth, wifi, hotspot, USB, dаn beberаpа fitur siаp membаntu аndа mengirim file.

Meizu M3 Note didukung dengаn spesifikаsi yаng sаngаt tаngguh sааt ini, yаkni dengаn menggunаkаn prosesor Octа-core 1.8GHz, Chip Mediаtek MT6755 Helio P10 yаng disаndingkаn dengаn RAM 2/3GB. Dаn untuk mendukung kinerjа dаn performаnyа Meizu M3 Note menggunаkаn bаterаi dengаn kаpаsitаs yаng sаngаt besаr yаitu dengаn kаpаsitаs 4100mAh. Nаh gimаnа Mi-Fаns sаngаt menаrik bukаn? Berikut spesifikаsi lengkаpnyа dаri Meizu M3 Note ini.

Spesifiksаi Meizu M3 Note

Jаringаn

2G
3G HSDPA
4G LTE
EDGE : Yes
GPRS : Yes

Rilis
April, 2016

Bodi
Dimensions : 153.6 x 75.5 x 8.2 mm (6.05 x 2.97 x 0.32 in)
SIM : Duаl SIM (Nаno-SIM, duаl stаnd-by)
Weight : 163 g (5.75 oz)

Lаyаr
Resolution : 1080 x 1920 pixels
Type : LTPS IPS LCD cаpаcitive touchscreen, 16M colors
Multitouch : Yes
Size : 5.5 inches
Protection : Dinorex T2X-1 scrаtch/shock resistаnt glаss
Flyme UI

Plаtform
CPU : Octа-core (4×1.8 GHz Cortex-A53 & 4×1.0 GHz Cortex-A53)
Chipset : Mediаtek MT6755 Helio P10
OS : Android OS, v5.1 (Lollipop)
GPU : Mаli-T860MP2

Memori
Cаrd slot : microSD, up to 256 GB (uses SIM 2 slot)
Internаl : 16 GB, RAM 2 GB  or 32 GB, RAM 3 GB

Kаmerа
Video : 1080p@30fps, check quаlity
Primаry : 13 MP, f/2.2, duаl-LED (duаl tone) flаsh, phаse detection аutofocus, check quаlity
Feаtures : Geo-tаgging, fаce detection, touch focus, HDR, pаnorаmа
Secondаry : 5 MP, f/2.0, 1080p

Suаrа
3.5mm jаck : Yes
– Active noise cаncellаtion with dedicаted mic
Alert types : Vibrаtion; MP3, WAV ringtones
Loudspeаker : Yes

Comms
Rаdio : No
WLAN : Wi-Fi 802.11 а/b/g/n, duаl-bаnd, Wi-Fi Direct, hotspot
USB : microUSB v2.0, USB Host
Bluetooth : v4.0, A2DP, LE
GPS : Yes, with A-GPS, GLONASS

Fitur
Sensors : Fingerprint, proximity, аccelerometer, gyro, compаss
Browser : HTML5
Messаging : SMS(threаded view), Emаil, Push Mаil, MMS, IM
Jаvа : No
– MP3/WAV/eAAC+/FLAC plаyer
– Document editor
– MP4/H.264 plаyer
– Photo/video editor

Bаterаi
Non-removаble, 4100 mAh bаttery

Wаrnа
White, Grаy,  Gold

Hаrgа

-+ RP 2.300.000

Kekurаngаn Meizu M3 Note

– Bаterаi menyаtu dengаn bodi.

Sumber: https://www.ram.co.id/

Perbedaan Good evening dan good night

Perbedaan Good evening dan good night

Perbedaan Good evening dan good night
Perbedaan Good evening dan good night

Banyak orang yang sedang belajar Bahasa Inggris kebingungan atau salah mengartikan perbedaan antara Good Evening dan Good Night. Kebanyakan dari mereka mengartikan secara sederhana Good Evening menjadi Selamat Sore dan Good Night menjadi Selamat Malam atau ucapan ketika kita mau tidur. Hal itu tidak sepenuhya salah dan tidak pula sepenuhnya betul. Untuk jelasnya mari kita jabarkan satu persatu.

A.Good Evening.

Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia Evening adalah sore, tapi untuk pemakaian Good evening di dalam Bahasa Inggris baru bisa kita gunakan setelah lewat jam enam sore, jadi walaupun jam tiga, empat, lima sudah kita anggap sore tapi kita belum bisa menggunakan Good evening, sedangkan untuk batas waktu seberapa malam kita menggunakan Good Evening, jawabannya adalah sampai jam dua belas malam. Kok bisa? Iya, karena pemakaian Good Evening ini buka berdasarkan Jam malam, tetapi berdasarkan aktifitas kita. Good evening adalah kata sapaan untuk kita memulai aktifitas di malam hari, atau bertemu seseorang di malam hari.

Contoh:

Seorang dosen mempunyai kelas malam, Waktu menunjukan pukul

    tujuh malam, sang dosen datang ke kelas dan dia membuka kelas
    dengan mengucap
    “Good evening class.”
    Carlo bertemu dengan temannya Antonio di club malam, waktu
    menunjukan pukul sebelas malam, Carlo menyapa:
    “Good evening Carlo”
Jadi penggunaan good evening bukan terletak di waktunya apakah masih petang ataupun sudah larut malam, tapi terletak pada aktifitasnya, yaitu untuk memulai aktifitas.

B. Good night.

Kebalikan dari good evening, good night adalah kalimat sapaan untuk kita mengakhiri aktifitas kita di malam hari atau untuk berpisah di malam hari.

    Contoh:

    Seorang dosen mempunyai kelas sore, kelas selesai jam tujuh,
    maka sang Dosen mengakhiri kelas dengan berkata:
    “Good Night class.”

Carlo sedang berada di cub malam dengan Antonio, pukul
sebelas malam Carlo memutuskan untuk pulang duluan maka Carlo
berkata:

“Good Night Antonio.”

Jadi sapaan Good Night juga bukan berdasarkan larutnya malam,
tetapi sapaan Good night berfungsi untuk menyapa seseorang
disaat  kita ingin mengakhiri aktifitas atau berpisah dengan
seseorang.

Semoga blog ini menambah pemahaman pembaca.Thanks for reading.

Sumber: https://www.kuliahbahasainggris.com/

Metode Pemecahan Masalah

Metode Pemecahan Masalah

Metode Pemecahan Masalah
Metode Pemecahan Masalah
Apakah sistem pembelajaran yang diselenggarakan dengan konsentrasi pada latihan pengerjaan soal yang semakin menguat diimbangi dengan pengembangan ketrampilan siswa bertanya? Pertanyaan ini muncul setelah saya melaksanakan tugas mensupervisi  guru mengajar dan mendapatkan fakta bahwa sulit mendapatkan guru yang mengembangkan keterapilan siswa bertanya.
Tentu hal itu merupakan masalah sebab ilmu itu bukan  tumbuh dari kepandaian menjawab pertanyaan, melainkan dari kemampuan merumuskan pertanyaan. Keterampilan menjawab memang penting, namun kemampuan ini bukan pengungkit  inisiatif. Pengetahuan baru datang dari kemampuan bertanya dan kepandaian untuk mencari jawaban.
Dalam tiga minggu terakhir,  saya masuk kelas untuk mendampingi guru mengajar. Dalam semua kesempatan, saya menantikan pernyataan seperti ” Informasi baru apa yang ingin kalian ketahui dalam proses belajar hari ini?” atau ” Masalah apa yang ingin kalian pecahkan?’ atau  ‘ Cobalah kalian membuat pertanyaan, apa yang hedak kalian mempelajari,. Yang selalu muncul adalah guru memulai pelajaran dengan bartanya.
Strategi pembelajaran yang guru gunakan pada umumnya menggunakan model pemecahan masalah dengan soal yang telah guru siapkan. Strategi ini tentu saja tidak buruk, namun kreativitas belajar siswa tidak cukup dengan meningkatkan keterampilan siswa menjawab. Ilmu pengetahuan datang dari  cara berpikir kreatif melalui proses perumusan pertanyaan.
Oleh karena itu  karakter siswa pada umumnya bukan mengembang inisatif, melainkan perespon yang sabar dan cerdas. Mrumuskan masalah dan membuat pertanyaan adalah karakter struktur kognitif manusaia[1]. Di Indonesia kondisinya kurang terlatih.
Merumuskan dan memcahkan masalah merupakan proses mental yang meliputi tiga aspek besar yaitu menemukan, merumuskan, menerapkkan solusi masalah. Pemecahana masalah merupakan fungsi intelektual paling kompleks dari semua fungsi intelektual tinggi manusia atau proses kognitif yang memerlukan kontrol dan keterampilan fundamental[2].

Merumuskan Masalah

Yang penting dalam mengasah keterampilan berpikir memecahkan masalah adalah siswa dapat merumuskan masalah. Masalah pada umumnya dapat dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu adanya kondisi yang muncul tiba-tiba sehingga muncul keadaan yang tidak diharapkan. Masalah seperti dikategorikan sebagai krisis. Misalnya, tiba-tiba terjadi sesuatu peristiwa yang tidak diduga. Dari kondisi ini muncul pernyataan masalah, seperti:
  • Apa….?
  • Siapa ………?
  • Di mana …………….?
  • Kapan….?
  • Mengapa……?
  • Bagaimana…….?
Klasifikasi masalah berikut adalah kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang diharapkan. Dari sini mucul masalah yang dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan. Misalnya:
  • Kondisi ……. belum sesuai dengan ….
  • Mengapa ……..belum sesuai dengan……?
  • Apa yang menyebabkan ……tidak sesuai dengan…….?
  • Bagaimana membuat ……..agar……?
Masalah berikut adalah ketidaktahuan, mengetahui bukan masalah, namun karena tahu menjadi selalu ingin tahu lebih banya,  dan selalu ingin tahu.
Masalah  dapat pula dinyatakan dengan contoh berikut:
  • Mengapa ….?
  • Bagaimana …….bisa jadi ……..?
  • Apa yang menyebabkan …..?
  • Apa yang anda ketahui ….?
  • Apa yang ingin anda ketahui?..?
Lain lagi masalah ilmiah. Dalam merumuskan masalah ilmiah karakternya sedikit berbeda. Dasarnya adalah kemampuan bertanya. Untuk membangun masalah dengan mudah adalah mengubah tujuan menjadi pertanyaan. Contoh;

Tujuan;

  • Siswa dapat merumuskan pertanyaan yang meliputi W’s +H.
  • Siswa dapat menerapkan metode berpikir memecahkan masalah.
Pernyataan tersebut dapat diubah menjadi
  • Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa merumuskan pertanyaan?
  • Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa menerapkan metode berpikir memecahkan masalah?

Langkah-langkah penerapan Metode Pemecahan Masalah

Kompleksitas  pemecahan masalah bergantung pada pada jenis masalah dan kerumitan masalah yang akan dipecahkan. Semakin luas permasalahan yang dibahas semakin banyak informasi yang diperlukan. Semakin banyak waktu yang siswa gunakan. Oleh karena itu, batasilah masalah sesuai dengan informasi yang mungkin dapat siswa peroleh selama pelaksanaan belajar dan waktu yang tersedia.
Langkah pemecahan masalah terdiri atas enam langkah berikut:
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  • Menganalisis masalah.
  • Merumuskan alternatif solusi pemecahan masalah.
  • Menganalisis solusi yang paling potensial.
  • Memilih Solusi terbaik dan menyusun rencana tindakan
  • Mengevaluasi Solusi[3]
Rangkaian proses ini dapat menjadi panduan guru dalam mentukan kegiatan siswa yang dapat dijabarkan lebih lanjut dalam langkah-langkah opersional di bawah ini.

1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan  Masalah 

Proses memecahkan masalah sebaiknya diawali dengan mendefinisikan masalah yang ingin Anda pecahkan. Anda perlu memutuskan apa yang ingin Anda capai dan menuliskannya. Langkah menuliskan masalah  memaksa Anda untuk berpikir tentang apa yang sebenarnya Anda juga menuliskan cara untuk memecahkan merumuskan apa sesungguhnya yang ingin Anda capai.
2. Menganalisis MasalahLangkah berikutnya dalam proses menganalisis,  di mana Anda sesungguhnya sekarang? Apa yang ingin Anda capai? Apa sesungguhnya yang menyebabkan Anda punya masalah? Memahami “dari mana masalah itu datang?” Apakah masalah itu relevan dengan perkembangan kehidupan  saat ini?. Apakah Anda memiliki perangkat kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi solusi?  atau Tahukah Anda  bahwa ide itu dapat dikerjakan? Apakah Anda dapat memprediksi waktu yang dihabiskan untuk memecahkan masalah itu? Berapa lama?.
3. Merumuskan Alternatif Solusi Pemecahan Masalah
Bila Anda telah menemukan masalah yang sebenarnya ingin Anda pecahkan, maka langkah selanjutnya pikirkan apa yang harus “ Anda lakukan?” Berpa banyak kemungkinannya?   Pada tahap ini Anda harus berkonsentrasi untuk menghasilkan banyak solusi. Semakin banyak pilihan semakin banyak informasi yang Anda dapatkan.  Di sini harus memperlakukan setiap ide untuk dipertimbangkan.
4. Menganalisis Solusi yang Paling Potensial
Bagian dari proses pemecahan masalah adalah mengamati, menyelidiki, mempertimbangkan  berbagai faktor tentang tiap berbagai solusi pilihan yang potensial. Mengapa Anda pilih solusi itu? Atas dasar pemikiran apa? Apakah kekuatan argumentasi yang digunakan untuk menentukan solusi potensial itu? Apakah informasi yang diganakan sebagai dasar menentukan alternatif solusi itu valid? Tuliskan beberapa alternatif yang paling potensial dan tuliskan argumentasi pendukungnya.
5. Memilih Solusi terbaik dan menyusun rencana tindakanIni adalah bagian dari proses pemecahan masalah yang paling penting, memutuskan solusi terbaik.  Anda telah melihat alterntif yang dipilih  secara cermat dan dengan  penilaian yang hati-hati.  Tulislah, YA pada gagasan yang Anda tetapkan. Ingat selain mempertimbangkan secara rasional belajarlah menggunakan intuisi. Pengalaman hidup  juga akan membantu Anda menilai memilih alternatif solusil. Laksanakan solusi itu dengan merumuskan recana kegiatan selanjutnya
6.Melaksanakan kegiatan atau menerapkan solusi
Bagian dari proses yang tidak kalah penting adalah menuliskan apa yang akan Anda lakukan selanjutnya. Sekarang bahwa Anda memiliki solusi yang potensial, kini kerjakan apa yang seharusnya Anda kerjakan. Pastikan bahwa masalah satu masalah selesai,
7. Mengevaluasi Solusi
Anda perlu melihat kembali apa sesungguhnya tujuan Anda? Atau, apakah sesungguhnya yang ingin anda capai? Apakah tujuan tercapai? Jika belum,  Apa sesungguhnya penghambatnya?  Apakah Anda menentukan berbagai langkah untuk mengatasinya? Silakan selesaikan masalah berikutnya.
Semua langkah dalam peningkatan keterampilan bertanya dikembangkan secara bertahap dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi disesuaikan dengan kapasitas belajar siswa.
Baca Artikel Lainnya:

Koagulan yang dipakai dalam penjernihan Air (Kimia Koloid)

Koagulan yang dipakai dalam penjernihan Air (Kimia Koloid)

Koagulan yang dipakai dalam penjernihan Air (Kimia Koloid)
Koagulan yang dipakai dalam penjernihan Air (Kimia Koloid)

Koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi muatan negatif partikel di dalam suspensi. Zat ini merupakan donor muatan positip yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel. Dalam pengolahan air sering dipakai garam dari Aluminium, Al (III) atau garam besi (II) dan besi (III).Koagulan yang umum dan sudah dikenal yang digunakan pada pengolahan air adalah seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini :

NAMA

FORMULA

BENTUK

REAKSI DENGAN AIR

pH OPTIMUM

Aluminium sulfat,

Alum sulfat, Alum, Salum

Al2(SO4)3.xH2O

x = 14,16,18

Bongkah, bubuk

Asam

6,0 – 7,8

Sodium aluminat

NaAlOatau

Na2Al2O4

Bubuk

Basa

6,0 – 7,8

Polyaluminium

Chloride, PAC

Aln(OH)mCl3n-m

Cairan, bubuk

Asam

6,0 – 7,8

Ferri sulfat

Fe2(SO4)3.9H2O

Kristal halus

Asam

4 – 9

Ferri klorida

FeCl3.6H2O

Bongkah, cairan

Asam

4 – 9

Ferro sulfat

FeSO4.7H2O

Kristal halus

Asam

> 8,5



Zat Koagulan terhidrolisa yang paling umum digunakan dalam proses pengolahan air minum adalah garam besi (ion Fe3+ ) atau Aluminium (ion Al3+ ) yang terdapat didalam bentuk yang berbeda-beda seperti tercantum di atas dan bentuk lainnya seperti :

  1. AlCl3
  2. Aluminium klorida dan sulfat yang bersifat basa/alkalis
  3. Senyawa kompleks dari zat-zat tersebut diatas.

Alum/Tawas

Tawas/Alum adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2S04 11 H2O atau 14 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Semakin banyak ikatan molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan yang nantinya akan ditangkap akan tetapi umumnya tidak stabil. Pada pH < 7 terbentuk Al ( OH )2+, Al ( OH )2 4+,  Al2 ( OH )2 4+. Pada pH > 7 terbentuk Al ( OH )-4. Flok –flok Al ( OH )3 mengendap berwarna putih.

Gugus utama dalam proses koagulasi adalah senyawa aluminat yang optimum pada pH netral. Apabila pH tinggi atau boleh dikatakan kekurangan dosis maka air akan nampak seperti air baku karena gugus aluminat tidak terbentuk secara sempurna. Akan tetapi apabila pH rendah atau boleh dikata kelebihan dosis maka air akan tampak keputih – putihan karena terlalu banyak konsentrasi alum yang cenderung berwarna putih. Dalam cartesian terbentuk hubungan parabola terbuka, sehingga memerlukan dosis yang tepat dalam proses penjernihan air.  Reaksi alum dalam larutan dapat dituliskan.:

   Al2S04 +  6 H2O   —–à  Al ( OH )3 + 6 H+ + SO42-

Reaksi ini menyebabkan pembebasan ion H+ dengan kadar yang tinggi ditambah oleh adanya ion alumunium. Ion Alumunium bersifat amfoter sehingga bergantung pada suasana lingkungan yang mempengaruhinya. Karena suasananya asam maka alumunium akan juga bersifat asam sehingga pH larutan menjadi turun.

Jika zat-zat ini dilarutkan dalam air, akan terjadi disosiasi garam menjadi kation logam dan anion. Ion logam akan menjadi lapisan dalam larutan dengan konsentrasi lebih rendah dari pada molekul air, hal ini disebabkan oleh muatan posistif yang kuat pada permukaan ion logam (hidratasi) dengan membentuk molekul heksaquo (yaitu 6 molekul air yang digabung berdekatan) atau disebut dengan logam (H2O)63+ , seperti [Al.(H2O)6]3+ .

Ion seperti ini hanya stabil pada media yang sedikit asam , untuk aluminium pada pH < 4, untuk Fe pada pH < 2.

Jika pH meningkat ada proton yang akan lepas dari ion logam yang terikat tadi dan bereaksi sebagai asam.

Sebelum digunakan satu hal yang harus disiapkan yaitu larutan koagulan. Di dalam larutan, koagulan harus lebih efektif, bila berada pada bentuk trivalen     (valensi 3) seperti Fe3+ atau Al3+, menghasilkan pH < 1,5. Bila larutan alum ditambahkan ke dalam air yang akan diolah terjadi reaksi sebagai berikut :

Reaksi hidrolisa : Al3+ + 3H2 Al(OH)+ 3H+   ….1)

Jika alkalinitas dalam air cukup, maka terjadi reaksi :

Jika ada CO32− : CO32− + H HCO3− + H2O ………..2)

Atau dengan HCO3− : HCO3− + H CO+ H2O ……3)

Dari reaksi di atas menyebabkan pH air turun.

Kelarutan Al(OH)sangant rendah, jadi pengendapan akan terjadi dalam bentuk flok. Bentuk endapan lainnya adalah Al2O3. nH2O seperti ditunjukkan reaksi :

2Al3+ + (n+3)H2 Al2O3.nH2O + 6H+

Ion Hbereaksi dengan alkalinitas.

Reaksi-reaksi hidrolisa yang tercantum di atas merupakan persamaan reaksi hidrolisa secara keseluruhan. Reaksi 1) biasanya digunakan untuk menghitung perubahan alkalinitas dan pH.

Pada kenyataannya ion Al3+ dalam larutan koagulan terhidrasi dan akan berlangsung dengan ketergantungan kepada pH hidrolisa. Senyawa yang terbentuk bermuatan positip dan dapat berinteraksi dengan zat kotoran seperti koloid.

[Al(H2O)6]3+     à  [Al(H2O)5OH]2+ + H+

[Al(H2O)5OH]2+      à   [Al(H2O)4(OH)2]+ H+

[Al(H2O)4(OH)2]+   à    [Al(H2O)3(OH)3] + Hendapan

[Al(H2O)3(OH)3]    —à   [Al(H2O)2(OH)4]− + H+ terlarut

Tahap pertama terbentuk senyawa dengan 5 molekul air dan 1 gugus hidroksil yang muatan total akan turun dari 3+ menjadi 2+ misalnya : [Al(H2O)5OH]2+.

Jika pH naik terus sampai mencapai ±5 maka akan terjadi reaksi tahap kedua dengan senyawa yang mempunyai 4 molekul air dan 2 gugus hidroksil. Larutan dengan pH >6 (dipengaruhi oleh Ca2+) akan terbentuk senyawa logam netral (OH)yang tidak bisa larut dan mempunyai volume yang besar dan bisa diendapkan sebagai flok (di IPA).

Jika alkalinitas cukup ion H+ yang terbentuk akan terlepas dan endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)yang terbentuk. Pada pH lebih besar dari 7,8 ion aluminat [Al(H2O)2(OH)4]− atau hanya Al(OH)4]− yang terbentuk yang bermuatan negatip dan larut dalam air. Untuk menghindari terbentuknya senyawa aluminium terlarut, maka jangan dilakukan koagulasi dengan senyawa aluminium pada nilai pH lebih besar dari 7,8.

Polimerisasi senyawa aluminium hidroksil berlangsung dengan menghasilkan kompleks yang mengandung ion Al yang berbeda berikatan dengan ion lainnya oleh grup OH. Contoh :

OH [(H2O)Al Al(H2O)4]4+ atau Al2(OH)24+

OH Polinuklir Al kompleks diajukan untuk diadakan, seperti :

[Al7(OH)17]4+ ; [Al8(OH)20]4+ ; [Al13(OH)34]5+

Selama koagulasi pengaruh pH air terhadap ion Hdan OH− adalah penting untuk menentukan muatan hasil hidrolisa. Komposisi kimia air juga penting, karena ion divalen seperti SO42− dan HPO42− dapat diganti dengan ion-ion OH− dalam kompleks oleh karena itu dapat berpengaruh terhadap sifat-sifat endapan.

Presipitasi dari hidroksida menjamin adanya ion logam yang bisa dipisahkan dari air karena koefisien kelarutan hidroksida sangat kecil. Senyawa yang terbentuk pada pH antara 4 – 6 dan yang terhidrolisa, dapat dimanfaatkan untuk polimerisasi dan kondensasi (bersifat membentuk senyawa dengan atom logam lain) misalnya Al6(OH)153+.

Aluminium sering membentuk komplek 6 s/d 8 dibandingkan dengan ion Fe (III) yang membentuk suatu rantai polimer yang panjang. Senyawa itu disebut dengan cationic polynuclier metal hydroxo complex dan sangat bersifat mengadsorpsi dipermukaan zat-zat padat. Bentuk hidrolisa yang akan terbentuk didalam air , sebagian besar tergantung pada pH awal, kapasitas dapar (buffer), suhu, maupun konsentrasi koagulan dan kondisi ionik (Ca2+ dan SO42–) maupun juga dari kondisi pencampuran dan kondisi reaksi.

Senyawa Al yang lainnya adalah sodium aluminat, NaAlOatau Na2Al2O4. Kelebihan NaOH yang ditambahkan (rasio Na2O/Al2Odalam Na2Al2Oadalah : 1,2 − 1,3/1) untuk menaikkan stabilitas sodium aluminat. Penambahan zat ini dalam bentuk larutan akan menghasilkan reaksi berikut :

AlO2− + 2H2 Al(OH)4

Al(OH)4−  Al(OH)3 + OH

Reaksi kedua hanya mungkin bila asiditas dalam air cukup untuk menghilangkan ion OH− yang terbentuk sehingga menyebabkan kenaikan pH.

CO+ OH−  HCO3

HCO3 + OH  CO2− + H2O

Kadang-kadang bila air tidak mengandung alkalinitas, perpaduan antara sodium aluminat dan alum digunakan untuk menghindari perubahan pH yang besar dan untuk membuat pH relatif konstan.

2Al3+ + 3SO42− + 6H2 2Al(OH)+ 3SO2− + 6H+

6AlO+ 6Na+ 12H2 6Al(OH)+ 6Na+ 6OH

_________________________________________________________

             2Al3+ + 3SO42− + 6Na+ 6AlO2− + 12H2 8Al(OH)+ 6Na++3SO42−

Pada prakteknya satu hal dipertimbangkan memberikan kelebihan asam dari larutan alum (pH 1,5) yang ditambahkan dan yang lainnya kelebihan NaOH di dalam sodium aluminat (untuk stabilitas).

Pada kekeruhan yang disebabkan tanah liat sangat baik dihilangkan dengan batas pH antara 6,0 sampai dengan 7,8; penghilangan warna umumnya dilakukan pada pH yang sedikit asam, lebih kecil dari 6, bahkan di beberapa daerah harus lebih kecil dari 5. Dari beberapa penelitian (untuk air gambut dari daerah Riau), efisiensi penghilangan warna akan baik bila pH lebih kecil dari 6 untuk setiap dosis koagulan alum sulfat yang digunakan. Walaupun demikian efisiensi penghilangan warna masih tetap tinggi dihasilkan pada koagulasi dengan pH sampai 7, tetapi dengan dosis alum sulfat yang lebih tinggi (sampai 100 mg/l), tetapi bila dosis alum sulfat lebih kecil (60 mg/l) pada pH yang sama (sampai dengan 7), terjadi penurunan efisiensi penghilangan warna secara drastis (sampai dengan 10 %).

Air setelah diolah dengan koagulasi – flokulasi untuk menghilangkan warna, pH harus ditetapkan diatas 6,5 (kurang dari 7,8) sebelum air disaring, karena pada pH tersebut bentuk aluminium tidak larut, jadi residu Al3+ terlarut didalam air dapat dihilangkan/dikurangi, pada pH > 7,8 bentuk Al adalah Al terlarut yaitu ion aluminat, [Al(H2O)2(OH)4]– Untuk hal ini dilakukan penambahan kapur sebelum proses filtrasi, dan biarkan aluminium berubah bentuk menjadi bentuk tidak larut/endapan supaya dapat dihilangkan dengan penyaringan.Dengan cara ini residu Al3+ dapat ditekan sampai tingkat yang diijinkan. Setelah itu baru boleh dilakukan penambahan kembali kapur atau soda abu untuk proses Stabilisasi dengan harapan tidak akan terjadi perubahan alum terlarut menjadi alum endapan. Bila cara diatas tidak dilakukan, kemungkinan akan terjadi pengendapan alum di reservoir atau pada jaringan pipa distribusi, akibat penambahan kapur atau soda abu untuk proses stabilisasi dilakukan setelah air keluar dari filter, seperti halnya yang dilakukan pada pengolahan air yang biasa ( tidak berwarna ).

Proses koagulasi dengan koagulan lain seperti halnya garam Fe (III) yang mempunyai rentang pH lebih besar (4–9) dan penggunaan koagulan Polyaluminium chloride (PAC), tanpa penetapan pH pun proses koagulasi – flokulasi tetap dapat berlangsung, tetapi pembentukan flok tidak optimum, hanya flok-flok halus yang terbentuk, sehingga beban filter akan bertambah.

Jika kehadiran alkalinitas didalam air cukup, pada koagulasi dengan koagulan garam Al ion Hyang terbentuk akan diambil dan terbentuk endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)3, dimana bentuk ini bermanfaat pada pertumbuhan flok ( mekanisme adsorpsi ). Adanya alkalinitas didalam air jika pH air > 4,5. Jadi jika pH air baku < 4,5 perlu penambahan bahan alkali (kapur atau soda abu).

PAC ( Poly Aluminium Chloride )

Senyawa Al yang lain yang penting untuk koagulasi adalah Polyaluminium chloride (PAC), Aln(OH)mCl3n-m.

Ada beberapa cara yang sudah dipatenkan untuk membuat polyaluminium chloride yang dapat dihasilkan dari hidrolisa parsial dari aluminium klorida, seperti ditunjukkan reaksi berikut :

n AlCl+ m OH− m Na Al (OH) Cl 3n-m + m Na+ m Cl

Senyawa ini dibuat dengan berbagai cara menghasilkan larutan PAC yang agak stabil.

PAC adalah suatu persenyawaan anorganik komplek, ion hidroksil serta ion alumunium bertarap klorinasi yang berlainan sebagai pembentuk polynuclear mempunyai rumus umum Alm(OH)nCl(3m-n).  Beberapa keunggulan yang dimiliki PAC dibanding koagulan lainnya adalah :

  1. PAC dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas, dengan demikian tidak diperlukan pengoreksian terhadap pH, terkecuali bagi air tertentu.
  2. Kandungan belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi senyawa karboksilat rantai siklik membentuk alifatik dan gugusan rantai hidrokarbon yang lebih pendek dan sederhana sehingga mudah untuk diikat membentuk flok.
  3. Kadar khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan negatif akan cepat bereaksi dan merusak ikatan zat organik terutama ikatan karbon nitrogen yang umumnya dalam truktur ekuatik membentuk suatau makromolekul terutama gugusan protein, amina, amida dan penyusun minyak dan lipida.
  4. PAC tidak menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan, sedangkan koagulan yang lain (seperti alumunium sulfat, besi klorida dan fero sulfat) bila dosis berlebihan bagi air yang mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah keruh. Jika digambarkan dengan suatu grafik untuk PAC adalah membentuk garis linier artinya jika dosis berlebih maka akan didapatkan hasil kekeruhan yang relatif sama dengan dosis optimum sehingga penghematan bahan kimia dapat dilakukan. Sedangkan untuk koagulan selain PAC memberikan grafik parabola terbuka artinya jika kelebihan atau kekurangan dosis akan menaikkan kekeruhan hasil akhir, hal ini perlu ketepatan dosis.
  5. PAC mengandung suatu polimer khusus dengan struktur polielektrolite yang dapat mengurangi atau tidak perlu sama sekali dalam pemakaian bahan pembantu, ini berarti disamping penyederhanaan juga penghematan untuk penjernihan air.
  6. Kandungan basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil dalam air sehingga penurunan pH tidak terlalu ekstrim sehingga penghematan dalam penggunaan bahan untuk netralisasi dapat dilakukan.
  7. PAC lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa ini diakibatkan dari gugus aktif aluminat yang bekerja efektif dalam mengikat koloid yang ikatan ini diperkuat dengan rantai polimer dari gugus polielektrolite sehingga gumpalan floknya menjadi lebih padat, penambahan gugus hidroksil kedalam rantai koloid yang hidrofobik akan menambah berat molekul, dengan demikian walaupun ukuran kolam pengendapan lebih kecil atau terjadi over-loadbagi instalasi yang ada, kapasitas produksi relatif tidak terpengaruh.

Senyawa Besi

Untuk senyawa besi, tipe hidrolisa yang sama dapat berlangsung seperti :

Fe3+ + 3H2 Fe(OH)+ 3H+

Reaksi di atas dilanjutkan dengan reaksi H+ dengan alkalinitas seperti ditunjukkan oleh reaksi 2) dan 3). Terdapat pula ion ferri hidrat seperti : [Fe(H2O)6]3+ dengan persamaan reaksi yang sama dengan hidrolisa [Al(H2O)6]3+.

Pembentukan [Fe(H2O)2(OH)4]− atau Fe(OH)4− hanya terjadi pada pH tinggi, tetapi tidak biasa ditemui pada pengolahan secara konvensional, jadi batas pH untuk koagulasi dengan Fe3+ lebih besar dari pada untuk Al3+, sebagai contoh pH 9 untuk koagulasi dengan Fe3+ dan 7,8 untuk Al3+.

Senyawa besi mempunyai tendensi membentuk jenis polinuklir yang lebih kecil dibandingkan dengan aluminium.

Dosis kagulan yang diperlukan tergantung pada :

  1. Konsentrasi warna.
  2. Zeta potential (pengukuran mobilitas elektroforesa) juga merupakan faktor penting untuk menghilangkan warna secara efektif. Hal ini erat hubungannya dengan sisa konsentrasi warna. Pada pH yang optimum, sisa warna berkurang secara proporsional dengan penambahan dosis koagulan.
  3. Jenis koagulan koagulan yang dapat digunakan untuk menghilangkan warna adalah :

–   Garam aluminium : Alum sulfat/tawas, Al2(SO4)3.xH2O, Polyaluminium chloride, PAC (PACl), Aln(OH)mCl3n-m

–   Garam besi (III) : Ferri sulfat, Fe2(SO4)3.xH2O, Ferri klorida, FeCl3.

Semakin tinggi dosis koagulan yang digunakan akan menghasilkan efisiensi penghilangan warna yang lebih besar pula, akan tetapi residu koagulan akan semakin besar.

Pada kasus pembentukan flok yang lemah dengan menggunakan dosis tawas optimum untuk menghilangkan warna, polialumunium klorida (PAC) dapat digunakan sebagai koagulan pilihan selain tawas. Koagulasi dengan poli alumunium klorida dapat dengan mudah memproduksi flok yang kuat dalam air dengan jangkauan dosis yang lebih kecil dan rentang pH yang lebih besar, tanpa mempertimbangkan kehadiran alkalinitas yang cukup.

Sumber: https://www.dosenpendidikan.com/

PENGENALAN BAHAN KIMIA BERACUN DAN BERBAHAYA SERTA TEKNIK PREPARASI BAHAN

PENGENALAN BAHAN KIMIA BERACUN DAN BERBAHAYA SERTA TEKNIK PREPARASI BAHAN

PENGENALAN BAHAN KIMIA BERACUN DAN BERBAHAYA SERTA TEKNIK PREPARASI BAHAN
PENGENALAN BAHAN KIMIA BERACUN DAN BERBAHAYA SERTA TEKNIK PREPARASI BAHAN

A. PENGENALAN BAHAN B3

1. Petunjuk umum untuk menangani buangan sampah.

Semua bahan buangan atau sampah seharusnya dikumpulkan menurut jenis bahan tersebut. Bahan-bahan tersebut ada yang dapat didaur ulang dan ada pula yang tidak dapat didaur ulang. Bahan yang termasuk kelompok bahan buangan/sampah yang dapat di daur ulang antara lain gelas, kaleng, botol baterai, sisa-sisa konstruksi bangunan, sampah biologi seperti tanaman, buah-buahan, kantong the dan beberapa jenis bahan-bahan kimia. Sedangkan bahan-bahan buangan yang tidak dapat didaur ulang atau yang sukar didaur ulang seperti plastik hendaknya dihancurkan. Karena belum ada aturan yang jelas dalam cara pembuangan jenis sampah di Indonesia, maka sebelum sampah dibuang harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium yang bersangkutan.

2. Bahan-bahan buangan yang umum terdapat di laboratorium.

1. Fine chemicals.
Fine chemicals hanya dapat dibuang ke saluran pembuangan atau tempat sampah jika :
a. Tidak bereaksi dengan air.
b. Tidak eksplosif (mudah meledak).
c. Tidak bersifat radioaktif.
d. Tidak beracun.
e. Komposisinya diketahui jelas.
2. Larutan basa.
Hanya larutan basa dari alkali hidroksida yang bebas sianida, ammoniak, senyawa organik, minyak dan lemak dapat dibuang kesaluran pembuangan. Sebelum dibuang larutan basa itu harus dinetralkan terlebih dahulu. Proses penetralan dilakukan pada tempat yang disediakan dan dilakukan menurut prosedur mutu laboratorium.
3. Larutan asam.
Seperti juga larutan basa, larutan asam tidak boleh mengandung senyawa-senyawa beracun dan berbahaya dan selain itu sebelum dibuang juga harus dinetralkan pada tempat dan prosedur sesuai ketentuan laboratorium.
4. Pelarut.
Pelarut yang tidak dapat digunakan lagi dapat dibuang ke saluran pembuangan jika tidak mengandung halogen (bebas Fluor, Clorida, Bromida, dan Iodida). Jika diperlukan dapat dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran air keluar. Untuk pelarut yang mengandung halogen seperti kloroform (CHCl3) sebelum dibuang harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium tempat dimana bahan tersebut akan dibuang.
5. Bahan mengandung merkuri.
Untuk bahan yang mengandung merkuri (seperti pecahan termometer merkuri, manometer, pompa merkuri, dan sebagainya) pembuangan harus ekstra hati-hati. Perlu dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium sebelum bahan tersebut dibuang.
6. Bahan radiokatif.
Sampah radioaktif memerlukan penanganan yang khusus. Otoritas yang berwenang dalam pengelolaan sampah radioaktif di Indonesia adalah Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).
7. Air pembilas.
Air pembilas harus bebas merkuri, sianida, ammoniak, minyak, lemak, dan bahan beracun serta bahan berbahaya lainnya sebelum dibuang ke saluran pembuangan keluar.
3. Penanganan Kebakaran dan Simbol-simbol Bahaya.
Beberapa bahan kimia seperti eter, metanol, kloroform, dan lain-lain bersifat mudah terbakar dan mudah meledak. Apabila karena sesuatu kelalaian terjadi kecelakaan sehingga mengakibatkan kebakaran laboratorium atau bahan-bahan kimia, maka kita harus melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
a. Jika apinya kecil, maka lakukan pemadaman dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
b. Matikan sumber linstrik/ gardu utama agar listrik tidak mengganggu upaya pemadaman kebakaran.
c. Lokalisasi api supaya tidak merember ke arah bahaan mudah terbakar lainnya.
d. Jika api mulai membesar, jangan mencoba-coba untuk memadamkan api dengan APAR. Segera panggil mobil unit Pertolongan Bahaya Kebakaran (PBK) yang terdekat.
e. Bersikaplah tenang dalam menangani kebakaran, dan jangan mengambil tidakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
4. Bahan-bahan Berbahaya serta Karsinogenik.
Tabel di bawah memuat daftar beberapa bahan-bahan kimia beerbahaya dan karsinogenik yang sering dijumpai di laboratorium-laboratorium kimia baik di Indonesia maupun di luar negeri.

B. TEKNIK PREPARASI

Preparasi merupakan teknik laboratorium yang sangat penting dikuasai oleh setiap kimiawan. Tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang memadahi dalam teknik preparasi ini, maka akan sangat sulit untuk menjalankan eksperimen/percobaan kimia secara baik dan benar di laboratorium. Menjalankan eksperimen dengan baik dan benar juga menyangkut efisiensi dan tidak membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain baik yang ada disekitarnya maupun yang berada di tempat lain. Bagai mahasiswa pemula agar mereka kelak dapat melakukan eksperimen kimia secara baik dan benar maka perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan teknik preparasi.
Tulisan ini akan memaparkan beberapa penegetahuan penting yang harus dikuasai oleh para pemula dalam disiplin ilmu kimia.
1. Konsentrasi Larutan.
Beberapa jenis konsentrasi yang perlu diketahui dan yang sering digunakan di laboratorium antara lain:
1. Molaritas (M).
Molaritas menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat di dalam satu liter larutan.
Misal akan di buat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL.
Diketahui bahwa Mr NaOH = 40
Maka ini berarti bahwa 1 mol NaOH massanya adalah 40 g.
Sehingga untuk 0,1 mol NaOH massanya adalah 4 g. Untuk membuat larutan NaOH 0,1 M sebanyak 1000 mL, maka sebanyak 4 gram kristal NaOH dilarutkan ke dalam akuades sedemikian rupa sehingga volume larutannya adalam 1000 mL atau 1 L.
2. Normalitas (N).
Normalitas menyatakan banyaknya gram ekuivaleen (grek) zat terlarut yang terdapat dalam satu liter larutan.
3. Molalitas (m).
Molalitas adalah menyatakan banyaknya mol zat terlarut yang terdapat dalam satu kilogram pelarut.
4. Fraksi mol (X). 
Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol zat terlarut dalam larutan terhadap jumlah mol total zat-zat yang ada dalam larutan (pelarut dan zat terlarut)..
5. Persen (%).
Ada beberapa macam penyataan persentase yang sering digunakan di laboratorium, antara lain:
a. persen volume/volume (v/v), menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan mL per 100 mL larutan.
b. Persen berat/volume (b/v), menyatakan banyaknya spesien kimia yang ada di dalam larutan yang dinyatakan dalam satuan berat (gram) per 100 gram larutan.
c. Persen berat/berat, menyatakan banyaknya spesies kimia yang ada di dalam larutan atau campuran/padatan yang dinyatakan dalam satuan gram per 100 gram larutan atau campuran atau padatan.
2. Penyiapan Alat.
Alat yang akan digunakan dalam eksperimen atau percobaan kimia harus disesuaikan dengan jenis dari bahan yang akan ditangani. Bahan-bahan tersebut dapat berupa cairan, padatan, atau gas.
a. Bahan-bahan berupa cairan.
Untuk menangani bahan berupa cairan diperlukan alat-alat gelas seperti Gelas Ukur, Pipet Gondok, Labu Takar, Erlenmeyer, Corong, dan lain-lainnya.
b. Bahan-bahan berupa padatan.
Untuk menangani bahan berupa padatan, terutama padatan dalam bentuk serbuk dibutuhkan alat-alat sebagai berikut: Alat Timbang, Gelas Arloji, Spatula/Sendok Sungu, Corong, dan Erlenmeyer.
c. Bahan-bahan berupa gas.
Untuk menangani bahan-bahan berupa gas diperlukan alat-alat dengan spesifikasi standar yang telah ditentukan untuk setiap jenis gas. Hal ini dikarenakan setiap jenis gas mempuynyai karakteristik dan resiko yang dihadapi oleh pengguna lebih tinggi daripada bila menangani bahan-bahan cair maupun padatan.

3. Hasil Reaksi atau Isolasi.
Kebanyakan penelitian kimia eksperimental bertujuan untuk mengisolasi suatu senyawa dari suatu bahan atau memproduksi/ sintesis seuatu senyawa. Produk isolasi atau sintesis tersebut umumnya belum dalam keadaan murni, sehingga perlu dilakukan pemurnian terhadap zat hasil. Beberapa teknik pemurnian yang banyak dipakai dalam kimia eksperimental akan dibahas dalam pokok bahasan berikut.
4. Teknik Pemurnian.
a. Kristalisasi dan Rekristalisasi.
Kristalisasi adalah suatu teknik untuk mendapatkan bahan murni suatu senyawa. Dalam sintesis kimia banyak senyawa-senyawa kimia yang dapat dikristalkan. Untuk mengkristalkan senyawa-senyawa tersebut, biasanya dilakukan terlebih dahulu penjenuhan larutan kemudian diikuti dengan penguapan pelarut serta perlahan-lahan sampai terbentuk kristal. Pengkristalan dapat pula dilakukan dengan mendinginkan larutan jenuh pada temperatur yang sangat rendah di dlam lemari es atau freezer.
Rekristalisasi adalah suatu teknik pemurnian bahan kristalin. Seringkali senyawa yang diperoleh dari hasil suatu sintesis kiia memiliki kemurnian yang tidak terlalu tinggi. Untuk memurnikan senyawa tersebut perlu dilakukan rekristalisasi. Untuk merekristalisasi suatu senyawa kita harus memilih pelarut yang cocok dengan senyawa tersebut. Setelah senyawa tersebut dilarutkan ke dalam pelarut yang sesuai kemudian dipanaskan (direfluks) sampai semua senyawa tersebut larut sempurna. Apabila pada temperatur kamar, senyawa tersebut sudah larut secara sempurna di dalam pelarut, maka tidak perlu lagi dilakukan pemanasan. Pemanasan hanya dilakukan apabila senyawa tersebut belum atau tidak larut sempurna pada keadaan suhu kamar. Setelah senyawa/solut tersebut larut sempurna di dalam pelarut baik dengan pemanasan maupun tanpa pemanasan, maka kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas. Kemudian larutan hasil penyaringan terssebut didinginkan perlahan-lahan sampai terbentuk kristal.
Salah satu faktor penentu keberhasilan proses kristalisasi dan rekristalisasi adalah pemilihan zat pelarut. Pelarut yang digunakan dalam proses kristalisasi dan rekristalisasi sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1) Memiliki gradient temperatur yang besar dalam sifat kelarutannya.
2) Titik didih pelarut harus di bawah titik lebur senyawa yang akan di kristalkan.
3) Titik didih pelarut yang rendah sangat menguntungkan pada saat pengeringan.
4) Bersifat inert (tidak bereaksi) terhadap senyawa yang akan dikristalkan atau direkristalisasi.
Apabila zat atau senyawa yang akan kita kritalisasi atau rekristalisasi tidak dikenal secara pasti, maka kita setidak-tidaknya kita harus mengenal komponen penting dari senyawa tersebut. Jika senyawa tersebut adalah senyawa organik, maka yang kita ketahui sebaiknya adalah gugus-gugus fungsional senyawa tersebut. Apakah gugus-gugus tersebut bersifat hidrofobik atau hidrofilik. Dengan kata lain kita minimal harus mengetahui polaritas senyawa yang akan kita kristalkan atau rekristalisasi. Setelah polaritas senyawa tersebut kita ketahui kemudian dipilihlah pelarut yang sesuai dengan polaritas senywa tersebut.
b. Sublimasi.
Sublimasi adalah peristiwa penguapan secara langsung padatan kristalin ke dalam fasa uap. Contoh klasik sublimasi adalah penguapan kamfer (kapus barus). Sublimasi dapat digunakan sebagai metode pemurnian padatan kristalin. Beberapa senyawa kimia dapat menyublim pada temperatur dan tekanan kamar, namun banyak yang beru dapat menyublim apabila tekanan diturunkan. Untuk mendapatkan bahan murni, fasa uap bahan tersublim didinginkan secara perlahan-lahan sehingga terbentuk kristal.
c. Destilasi.
Destilasi juga merupakan salah satu teknik memurnikan senyawa kimia. Senyawa yang akan dimurnikan harus berupa cairan. Destilasi bekerja berdasarkan perbedaan titik didih senyawa-senyawa di dalam larutan. Senyawa-senyawa yang dimurnikan akan terpisah berdasarkan perbedaan titik didihnya. Senyawa-senyawa dengan titik didih rendah akan terpisah terlebih dahulu diikuti dengan senyawa-senyawa yang memiliki titik didih yang lebih tinggi.
5. Uji Kkemurnian.
Untuk mengetahui kemurnian suatu senyawa hasil pemurnian seperti yang telah dijelaskan di atas, maka digunakan beberapa teknik uji kemurnian bahan yang relatif sederhana seperti uji titik leleh, uji indeks bias, uji berat jenis, uji titik didih, dan uji kekentalan (viskositas).
1. Uji titik leleh.
Uji titik leleh merupakan salah satu teknik uji kemurnian bahan padat yang cukup akurat terutama jika titik leleh bahan telah diketahui sebelumnya. Titik leleh bahan murni dapat dilihat pada table spesifikasi bahan yang tersedia di perpustakaan laboratorium. Akan tetapi untuk bahan-bahan yang sama sekali baru, teknik ini juga dapat digunakan. Bahan-bahan murni umumnya memiliki interval titik leleh yang sempit.
2. Uji indeks bias.
Indeks bias suatu cairan dapat digunakan sebagai faktor penentu kemurnian bahan. Namun demikian seperti juga metode titik leleh, metode uji indeks bias ini lebih tepat untuk digunakan sebagai tes uji kemurnian bahan yang indeks bias bahan murninya telah diketahui dengan pasti terelbih dahulu. Untuk bahan-bahan yang sama sekali baru, maka metode uji indeks bias ini juga dapat diterapkan dengan hati-hati.
3. Uji berat jenis.
Uji berat jenis merupakan salah satu teknik uji kemurnian yang cukup akurat. Archimedes menguji kemurnian emas mahkota raja berdasarkan prinsip uji berat jenis ini. Setiap zat murni mempunyai berat jenis yang spesifik yang dapat digunakan sebagai dasar pengujian bahan.
4. Uji titik didih.
Uji titik didih juga dapat digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu bahan. Uji ini dapat diterapkan pada senyawa berujud cairan yang bahan cair murninya telah diketahui titik didihnya secara pasti. Uji titik didih senyawa murni dapat dilihat pada tabel di buku katalog di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lain yang titik didik murninya belum diketahui secara pasti, uji titik didih ini dapat dilakukan dengan hati-hati.
5. Uji kekentalan.
Uji kekentalan dapat dilakukan untuk mengetahui kemurnia suatu bahan. Bahan-bahan cair yang dalam keadaan murni memiliki kekentalan yang khas dan berbeda dari senyawa yang lain. Uji ini dapat dilakukan untuk senyawa/ bahan cair yang kekentalannya telah diketahui secara pasti. Data kekentalan berbagai bahan murni dapat dilihat pada buku katalog bahan di perpustakaan laboratorium. Untuk bahan-bahan lain yang kekentalannya belum diketahui secara pasti maka uji ini dapat dilakukan secara hati-hati.

TEORI VON THUNEN TENTANG LOKASI PERTANIAN

Teori VOn Thunen Tentang Lokasi Pertanian

TEORI VON THUNEN TENTANG LOKASI PERTANIAN
TEORI VON THUNEN TENTANG LOKASI PERTANIAN

 

Menurut Johann Hienrich von Thunen

Johann Hienrich von Thunen dalam Der Isolierte Staat (1826) mengemukakan bahwa pada dasarnya penggunaan lahan dapat dibagi dalam beberapa penggunaan. Dengan mengambil satu pusat kota sebagai satu-satunya tempat memproduksi barang-barang yang dibutuhkan seluruh negara, daerah daerah di sekitarnya hanya sebagai pemasok bahan mentah lain ke kota.

Lahan pertama

Lahan pertama berada di dekat pusat kota (pasar) akan dipakai untuk kegiatan-kegiatan intensif jenis tanaman yang hasilnya cepat rusak, memakan tempat dan berat dalam kaitannya dengan transportasi.

Daerah kedua

Daerah kedua merupakan daerah hutan. Hal ini bisa dipahami mengingat masa itu kebutuhan hasil hutan untuk kayu dan bahan bakar yang sifatnya memakan tempat dan berat sehingga harus ditempatkan agar dekat dari pusat kota.

Daerah ketiga

Daerah ketiga digunakan untuk menanam tanaman sejenis gandum atau padi-padian.

Daerah keempat berupa daerah penggembalaan ternak.

Daerah kelima, merupakan daerah ’three field system’ merupakan daerah ilalang, daerah tandus.

Sedangkan daerah keenam merupakan daerah perburuan.

Untuk memudahkan dan efisiensi transportasi, diperlukan sungai yang membelah kota, ternyata dapat menghemat 1/6 transportasi darat, sehingga daerah pertama akan berkembang sepanjang sungai.

Perlu dibuat kombinasi transportasi darat dan sungai, sehingga akan sama biaya transportasi darat bagi daerah yang tidak dapat menikmati adanya sungai.

Baca juga : 

5 Brand Makeup Drugstore yang Paling Recommended

5 Brand Makeup Drugstore yang Paling Recommended

5 Brand Makeup Drugstore yang Paling Recommended
5 Brand Makeup Drugstore yang Paling Recommended

 

Suka dengan produk makeup yang terjangkau? Buat kamu yang baru mulai menggunakan makeup, makeup drugstore memang menjadi pilihan yang tepat. Selain karena kualitasnya yang bagus, makeup drugstore yang memiliki harga yang cukup affordable. Berikut 5 rekomendasi brand makeup drugstore yang paling recommended.

Yuk, simak brand makeup drugstore yang paling recommended

Catrice, brand asal Jerman yang menyediakan produk makeup yang lengkap

Brand yang satu ini dikeluarkan pada tahun 2004 di Jerman dan berhasil menjadi salah satu brand kosmetik drugstore yang digemari oleh banyak beauty enthusiast di dunia. Catrica juga banyak digemari oleh banyak beauty enthusiast Indonesia karena kualitasnya yang bagus dan harganya yang terjangkau.

Beberapa produk Catrice yang banyak direkomendasikan antara lain, The Precious Copper Eyeshadow Palette, HD Liquid Coverage Foundation, All Round Concealer Palette dan juga Prime & Fine Translucent Loose Powder

Maybelline, hadir dengan produk yang berkualitas

Siapa sih yang tidak kenal dengan brand makeup yang satu ini? Maybelline adalah salah satu brand kosmetik yang ternama di dunia dan sudah di lebih dari 129 negara. Maybelline menghadirkan lebih dari 200 produk makeup berkualitas dan berhasil menjadi favorit para makeup junkie.

Beberapa produk Maybelline yang wajib kamu coba antara lain adalah rangkaian produk complexion dari Fit Me Master Chrome Highlighter dan Eye Studio Lasting Drama Gel Eyeliner

E.L.F, professional makeup yang berasal dari New York

Buat kamu yang belum tahu, E.L.F merupakan singkatan dari Eyes, Lips, Face. E.L.F Cosmetics ini merupakan brand kosmetik internasional yang berbasis di New York City.

Brand makeup drugstore satu ini didirikan oleh Joseph Shamah dan Scott Vincent Borba pada tahun 2004. E.L.F memproduksi banyak produk makeup berbasis mineral mulai dari eyeliner, lipstick, glosses, loose powder, bronzer, mascara hingga brush.

BH Cosmetics, brand makeup drugstore yang lagi hits

BH Cosmetics merupakan brand kosmetik yang sudah berdiri sejak tahun 2009. Brand ini mengeluarkan produk makeup yang bisa dibilang lengkap mulai dari, lipstik, face makeup, eye makeup hingga brush makeup sebagai pelengkap.

BH Cosmetics berbasis di California, USA, Wuppertal dan Germany ini ternyata sudah menjual produknya dengan jumlah lebih dari 500,000 produk di pasar makeup internasional, lho! Agar tetap up to date dan mengikuti zaman, BH Cosmetics juga sering berkolaborasi dengan para beauty influencer.

City Color, brand makeup asal California dengan harga yang terjangkau

Brand makeup yang berasal dari California ini memiliki tujuan untuk bisa membuat semua wanita merasa cantik dengan budget yang seadanya. Produk makeup yang dikeluarkan oleh City Color ini juga memiliki kualitas terbaik, dan tidak menggunakan animal testing.

Buat kamu yang memiliki kulit kombinasi, produk makeup dari City Color ini patut kamu coba karena City Color banyak mengeluarkan produk khusus untuk kamu para pemilik kulit kombinasi.

 

Sumber : https://merkterbaik.com/

Pengertian Atol Dan Persebarannya Di Dunia

Pengertian Atol Dan Persebarannya Di Dunia

Pengertian Atol Dan Persebarannya Di Dunia
Pengertian Atol Dan Persebarannya Di Dunia

 

Pengertian Atol

Definisi atol adalah kumpulan terumbu karang yang berbentuk melingkar atau hampir melingkar menyerupai cincin yang mengelilingi laguna di dalamnya. Bentuk melingkar dari atol disebabkan proses perkembangan atol yang tumbuh disekeliling pulau gunung api, dimana seiring waktu gunung api itu kehilangan aktivitas magmanya (tidak aktif) kemudian puncaknya tererosi menyisakan terumbu karang yang berbentuk cincin yang disebut atol.

Persebaran Atol

Distribusi atol di seluruh dunia bersifat instruktif: sebagian besar atol dunia berada di Samudera Pasifik (dengan konsentrasi di Kepulauan Tuamotu , Kepulauan Caroline , Kepulauan Marshall , Coral Sea Islands , dan kelompok pulau Kiribati , Tuvalu dan Tokelau ) dan Samudera Hindia (the atol di Maladewa, Kepulauan Lakshadweep, Kepulauan Chagos dan di bagian pesisir Jawa ).

Karang pembentuk terumbu hanya akan berkembang di perairan tropis dan subtropis yang hangat, dan karena itu atol hanya ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Atol paling utara di dunia adalah Kure Atoll di 28 ° 24 ‘N, bersama dengan atol lain dari Northwestern Hawaiian Islands . Atol paling selatan di dunia adalah Elizabeth Reef di 29 ° 58 ‘S, dan dekat Middleton Reef di 29 ° 29 ‘S, di Laut Tasman , keduanya merupakan bagian dari Wilayah Kepulauan Laut Coral . Atol selatan berikutnya adalah Pulau Ducie di Kepulauan Pitcairn Group, pada 24 ° 40 ‘S. Bermuda kadang-kadang diklaim sebagai “atol utara” pada lintang 32 ° 24 ‘N. Pada lintang ini terumbu karang tidak akan berkembang tanpa pemanasan perairan Gulf Stream . Namun, Bermuda disebut sebuah pseudo-atoll karena memiliki bentuk umum, sementara sebuah atol, memiliki bentuk yang sangat khas dan unik. Meskipun tidak ada atol tepat di Khatulistiwa , atol terdekat dengan Khatulistiwa adalah Aranuka Kiribati, dengan ujung selatan yang hanya 12 km di utara Khatulistiwa.

Atol terbesar dengan total luas (laguna ditambah karang dan lahan kering) tercantum di bawah ini:

Saya de Malha Bank , Samudera Hindia bagian Barat(35000 km²)terendam, setidaknya kedalaman 7 m,
Lansdowne Bank , sebelah barat dari Kaledonia Baru (21000 km²), terendam, setidaknya kedalaman 3,7 m [10]
Besar Chagos Bank (12.642 km², luas tanah hanya 4,5 km ²)
Buluh Bank, Kepulauan Spratly (8866 km²), terendam, setidaknya kedalaman 9 m
Macclesfield Bank , Laut Cina Selatan (6448 km²), terendam, setidaknya kedalaman 9,2 m
Bank Utara (Ritchie Bank, utara Saya de Malha Bank ) (5800 km²), terendam, setidaknya kedalaman <10 m
Rosalind Bank , Laut Karibia (4500 km²), terendam, setidaknya kedalaman 7,3 m
Boduthiladhunmathi (Thiladhunmathi-Miladhunmadulu) Atoll, Maladewa , (dua nama, namun struktur atol tunggal) (3850 km², luas tanah 51 km²)
Kepulauan Chesterfield , Kaledonia Baru (3500 km², luas lahan <10 km²)
Huvadhu Atoll , Maladewa (3152 km², luas lahan 38,5 km²)
Truk Lagoon , Chuuk (3130 km²) [11]
Sabalana Islands , Indonesia (2694 km²)
Nukuoro atol, Negara Federasi Mikronesia , laguna , adalah 40 km², luas tanah 1,7 km², dibagi di antara lebih dari 40 pulau yang terletak di sisi utara, timur dan selatan laguna
Lihou Reef , Coral Sea (2529 km², luas lahan 1 km²)
Bassas de Pedro (2.474,33 km²), terendam, setidaknya kedalaman 16,4 m
Ardasier Bank, Spratly Islands (2347 km²), cay di sisi selatan?
Kwajalein , Kepulauan Marshall (2304 km², luas lahan 16,4 km²)
Berlian Islets Bank, Coral Sea (2282 km², luas lahan <1 km²)
Namonuito Atoll , Chuuk (2267 km², luas lahan 4,4 km²)
Ari Atoll , Maladewa (2252 km², luas tanah 69 km²)
Maro Reef , Northwestern Hawaiian Islands 1934 km²
Rangiroa , Kepulauan Tuamotu (1762 km², luas tanah 79 km²)
Kolhumadulhu Atoll , Maladewa (1617 km², luas tanah 79 km²)
Atol Atol ( Utara Malé Atoll ), Maladewa (1565 km², luas tanah 69 km²)
Ontong Java , Kepulauan Solomon (1500 km², luas tanah 12 km²)

Sekian tentang pengertian atol dan persebaran atol, jangan lupa share dan tinggalkan komentar.

Sumber : https://dosen.co.id/