Al-Muqtadir

Al-Mu’tamid

Al-Mu’tamid naik menjabat sebagai khalifah pada tahun 256 H/869 M pada usia 26 tahun. Ia kemudian mengangkat saudaranya Al-Muwaffik sebagai pelaksana kekuasaan (al Sultan) dan juga sebagai panglima besar (Al Qaid). Kerjasa sama yang teramat baik diantara dua saudara itu menyebabkan Khalifah Al-Mu’tamid dapat memerintah selama 23 tahun 6 bulan lamanya.
Kebijakan awalnya atas usulan dari Al-Muwaffiq yaitu memindahkan ibukota kembali ke Baghdad. Guna untuk memelihara ketertiban di ibukota dan menghindarkan berbagai kemungkinan maka tokoh-tokoh terkuat pada unsur Turki itu berangsur-angsur ditunjuk dan diangkat sebagai pejabat-pejabat wilayah. Semenjak ibu kota dipindahkan kembali ke Baghdad keadaan kota Samarra tidak pernah lagi menjadi tempat kedudukan para Khalifah dan menjadi kota peristirahatan. Khalifah Al-Mu’tamid berusaha menghidupkan keagungan kota Baghdad kembali. Namun dimasanya juga banyak terjadi penyerangan-penyerangan dan perebutan wilayah.
Selain itu, perkembangan lain pada masa Al-Mu’tamid yaitu pelayaran dagang dengan pesiar India dan Asia Tenggara bagi mengangkut rempah-rempah yang amat dibutuhkan negara-negara dingin di Eropa makin bertambah lancar. Didalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan hidup tokoh-toh seperti Abu Isa at-Turmudzi, Adu Daud as-Sijistani, Ibnu Majah al Qazwini dan Ahmad An-Nisai dimana mereka tersebut adalah orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu hadist. Pada masanya juga hidup ahli hukum yang terkenal yaitu Abu Sulaim Daud Al Asfihani,. Dan dalam bidang astronomi dan aljabar yaitu al-Battani.Al-Mu’tamid meninggal pada tahun 278 H/892 M selisih enam bulan setelah meninggalnya Al-Muwaffiq. Pada masa pemerintahannya itu campur tangan bangsa Turki dapat diatasi dan dikuasai.[8]

7. Al- Mu’tadhid

Al Mu’tadhid adalah Khalifah Bani Abbasiyah Baghdad dari 892 hingga 902. Sebelum ia iangkat sebagai khalifah, ia sudah memiliki kekuasaan tinggi, dan berlanjut sebagai khalifah ia sanggup mengatur pemerintahan. Mesir kembali ke pangkuan khilafah. Di Mesopotamia, sang Khalifah sudah lama memerangi Khawarij. Di ujung kawasan ini, yang sudah lama gonjang-ganjing, sebagian karena gerombolan pemberontak, sebagian karena persaingan antara Mesir dan jenderal negeri, masalah itu harus diselesaikan.
Al-Mu’tadhid adalah penguasa pemberani dan energik. Ia juga begitu toleran terhadap masyarakat Syi’ah yang dibuktikan dengan hadiah besar kepada mereka dari pangeran Tabaristan, ia tidak menunjukkan sikap yang tak menyenangkan, seperti yang dilakukan pendahulunya; namun hanya perintah untuk melakukannya secara terbuka. Tidak seperti terhadap Bani Umayyah, ia memerintahkan Bani Umayyah dicela di doa umum dan melarang semua sebutan yang memuji mereka di debat-debat kelompok agama. Baghdad dipermalukan atas hal ini; dan pada akhirnya khalifah menarik titahnya tersebut. Setelah pemerintahan yang makmur selama 10 tahun, al-Mu’tadhid mangkat; dan al-Muktafi, puteranya dari seorang budak Turki, naik tahta..
8. Al-Muktafi
Al-Muktafi adalah khalifah ke-17 Bani Abbasiyah (902-908). Abu Muhammad Ali bin al-Mu’tadhid al-Muktafi adalah anak al-Mu’tadhid (892-902) dengan seorang budak Turki. Dengan pimpinan ar Raqqah saat kematian ayahandanya, ia kembali ke ibukota, di mana ia dikagumi khayalak karena kemurahan hatinya, dan menghapuskan penjara-penjara rahasia ayahandanya. Selama masa pemerintahannya yang sekitar 6 tahun, khilafah mendapat ancaman dari sejumlah bahaya yang dengan gagah berani dihadapi dan dipecahkan. Yang paling utama berasal dari Qaramitha, salah satu cabang Ismailiyah yang mulai berkembang selama tahun-tahun terakhir.
Setelah masa pemerintahan bergolak selama 6-7 tahun, al-Muktafi bisa melihat-lihat dan mengetahui bahwa khilafah lebih aman daripada masa pemerintahan al-Mu’tasim Billah. Salah satu tindakan terakhirnya aalah kematian pangeran Samaniyan, yang mengakui suksesi puterandanya di Khorasan, dan menyampaikan padanya bendera yang ditempelkan dengan tangannya sendiri.
9. Al-Muqtadir
Al-Muqtadir adalah khalifah ke-18 Abbasiyah (908–932). Setelah khalifah sebelumnya, al-Muktafi, dikurung selama beberapa bulan di kamarnya, terjadi intrik yang menyangkut masa depan khilafah. Dari 2 calon, adinda al-Muktafi yang disukai khalifah dan keturunan al-Mu’tazz yang baru berusia 13 tahun, akhirnya dipilih al-Muqtadir.
Sejak masa pemerintahannya, Abbasiyah terus menurun. Di saat yang sama, banyak nama terkenal di bidang sastra dan IPTek bermunculan. Yang terkenal: Ishaq bin Hunain (anak Hunain bin Ishaq), dokter dan penerjemah tulisan-tulisan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab; Ibnu Fadhlan, penjelajah; Muhammad bin Jabir bin Sinan al-Battani, astronom;Thabari, sejarawan dan agamawan; Abu Bakr ar-Razi, filsuf yang memberikan sumbangan mendasar dan abadi di bidang kedokteran dan kimia; Abu Nashr Muhammad al-Farabi, kimiawan dan filsuf; Abu Nashr Mansur, matematikawan; Al-Haitsam, matematikawan; Abu Raihan al-Biruni, matematikawan, astronom, fisikawan; Omar Khayyam, penyair, matematikawan, dan astronom. Pada tahun 932 Al-Muqtadir dibunuh oleh penjaga kota di Mosul. Ia digantikan oleh saudaranya al-Qahir.
10. Al-Qahir
Setelah Khalifah Al-Muqtadir terbunuh, diangkatlah Al-Qahir menjadi khalifah ke 19 pada tahun 320 H/932 M atas dukungan para panglima dan pembesar istana. Al-Qahir tidak cakap mengurus politik, pelit, kaku, dan keras. Aktivitas pertamanya adalah melenyapkan pemerintahan para wanita dan menjemput paksa ibu dari Al-Muqtadir untuk meminta uang dalam jumlah besar. Dia menggantung kaki wanita ini dan menyiksanya dengan kejam serta mengambil dari wanita ini sejumlah tiga puluh ribu dinar.[9]
Khalifah Al-Qahir sebenarnya berada dalam cengkraman dan kekangan dari panglima Muknas Al-Khadim. Panglima Muknas Al-khadim menjadikan Ibnu Muqlah sebagai perdana menteri yang bertugas memberikan gaji terhadap para tentara. Untuk itu, Khalifah Al-Qahir memiliki rencana untuk terbebas dari cengkraman panglima Muknas yaitu dengan mendekati kawan-kawan dari khalifah Al-Muqtadir. Al-Qahir memecah belah antar sesame tentara dan berusaha menjauhkan Ibnu Muqlah dari kekuasaan. Al-Muqlah akhirnya mengetahui rencana khalifah dan berusaha melakukan konspirasi namun Al-Qahir dapat mengetahuinya dan langsung mengusir Al-Muqlah. Khalifah lantas memanggil Muknas untuk menghadapnya sesampainya Muknas kepadanya, Ia lantas menangkap dan membunuhnya. Dengan demikian Khalifahlah yang memiliki kendali dalam segala urusan.[10]
Melihat kondisi yang demikian Al Muqlah tidak tinggal diam. Ia memprovokasi para tentara dan masyarakat untuk menggulingkan khalifah. Dalam provokasinya, dinyatakan bahwa khalifah membuka istananya untuk memenjarakan para komandan, khalifah adalah pemabuk dan sebagainya. Masyarakat pun bangkit untuk menggulingkan khalifah yang saat itu ternyata sedang mabuk. Akhirnya mereka mmenjarakan khalifah. Khalifah Al-Qahir turun dari jabatannya pada tahun 322 H/934 M dan meninggal pada tahun 338 H/ 950 M dalam usia 30 tahun dan masa hidupnya yang terakhir adalah sebagai pengemis di ibukota Baghdad.[11]


Sumber: https://swatproject.org/

Posted on: September 10, 2020, by :