Pendidikan

Constructive Cost Model (COCOMO)

Constructive Cost Model (COCOMO)

Constructive Cost Model (COCOMO)
Constructive Cost Model (COCOMO)

Constructive Cost Model (COCOMO) Merupakan algoritma estimasi biaya perangkat lunak model yang dikembangkan oleh Barry Boehm. Model ini menggunakan rumus regresi dasar, dengan parameter yang berasal dari data historis dan karakteristik proyek proyek saat ini.

  1. Sejarah Singkat COCOMO

COCOMO pertama kali diterbitkan pada tahun 1

981 Barry Boehm W. ‘s Book ekonomi Software engineering sebagai model untuk memperkirakan usaha, biaya, dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak. Ini menarik pada studi dari 63 proyek di TRW Aerospace mana Barry Boehm adalah Direktur Riset dan Teknologi Perangkat Lunak pada tahun 1981. Penelitian ini memeriksa proyek-proyek ukuran mulai dari 2.000 sampai 100.000 baris kode, dan bahasa pemrograman mulai dari perakitan untuk PL / I. Proyek-proyek ini didasarkan pada model pengembangan perangkat lunak waterfall yang merupakan proses software umum pembangunan di 1981. Referensi untuk model ini biasanya menyebutnya COCOMO 81. Pada tahun 1997 COCOMO II telah dikembangkan dan akhirnya diterbitkan pada tahun 2000 dalam buku Estimasi Biaya COCOMO II Software dengan COCOMO II. adalah penerus dari COCOMO 81 dan l

ebih cocok untuk mengestimasi proyek pengembangan perangkat lunak modern. Hal ini memberikan lebih banyak dukungan untuk proses pengembangan perangkat lunak modern, dan basis data proyek diperbarui. Kebutuhan model baru datang sebagai perangkat lunak teknologi pengembangan pindah dari batch processing mainframe dan malam untuk pengembangan desktop, usabilitas kode dan penggunaan komponen software off-the-rak. Artikel ini merujuk pada COCOMO 81.

  1. Pengertian COCOMO

COCOMO terdiri dari tiga bentuk hirarki semakin rinci dan akurat. Tingkat pertama, Basic COCOMO adalah baik untuk cepat, order awal, kasar estimasi besarnya biaya perangkat lunak, namun akurasinya terbatas karena kurangnya faktor untuk memperhitungkan perbedaan atribut proyek (Cost Drivers). Intermediate COCOMO mengambil Driver Biaya ini diperhitungkan dan Rincian tambahan COCOMO account untuk pengaruh

fase proyek individu.

  1. Model Jenis COCOMO

Ada tiga model cocomo, diantaranya ialah:

  1. Dasar Cocomo

Dengan menggunakan estimasi parameter persamaan (dibedakan menurut tipe sistem yang berbeda) upaya pengembangan dan pembangunan durasi dihitung berdasarkan perkiraan DSI. Dengan rincian untuk fase ini diwujudkan dalam persentase. Dalam hubungan ini dibedakan menurut tipe sistem (organik-batch, sebagian bersamb

ung-on-line, embedded-real-time) dan ukuran proyek (kecil, menengah, sedang, besar, sangat besar).

Model COCOMO dapat diaplikasikan dalam tiga tingkatan kelas:

  1. Proyek organik(organic mode)

adalah proyek dengan ukuran relatif kecil, dengan anggota tim yang sudah berpengalaman, dan mampu bekerja pada permintaan yang relatif fleksibel.

  1. Proyek sedang(semi-detached mode)

merupakan proyek yang memiliki ukuran dan tingkat kerumitan yang sedang, dan tiap anggota tim memiliki tingkat keahlian yang berbeda

Baca Juga 

System Engineer

System Engineer

 System Engineer
System Engineer

System Engineer, tanggung jawab utama dari System Engineer adalah memastikan bahwa semua sistem perusahaan berfungsi dengan lancar, memastikan bahwa setiap karyawan perusahaan semakin mampu untuk data tertentu, dan memastikan bahwa departemen IT perusahaan berjalan lancar.

Perbandingan dengan negara lain:

  • Singapore

Pada model Singapore juga dilakukan pembagian berdasarkan tingkatan senioritas. Misal pada System development dibagi menjadi:

1. Programmer
2. Analyst/Programmer
3. Senior Analyst/Programmer
4. Principal Analyst/Programmer
5. System Analyst
6. Senior System Analyst
7. Principal System Analyst

  • Malaysia

Model Malaysia ini mirip dengan model Singapore, juga membedakan posisi pekerjaan pada berbagai sektor bisnis. Tetapi berbeda dalam melakukan ranking senioritas, misal untuk System Development:

1. Programmer
2. System Analyst/Designer
3. System Development Executive

  • Inggris

Model British Computer Society (BCS)
Untuk model BCS pekerjaan diklasifikasikan dalam tingkatan sebagai berikut :

Level 0 . Unskilled Entry
Level 1 . Standard Entry
Level 2 . Initially Trainded Practitioner
Level 3 . Trained Practitioner
Level 4 . Fully Skilled Practitioner
Level 5 . Experienced Practitioner/Manager
Level 6 . Specialist Practitioner/Manager
Level 7 . Senior Specialist/Manager
Level 8 . Principal Specialist/Experienced Manager
Level 9 . Senior Manager/Director

Sumber : https://anchorstates.net/

Database Administrator

Database Administrator

Database Administrator
Database Administrator

Database Administrator, bekerja sama dengan profesional komputer lain seperti analis data, web peveloper dan programer komputer. Database Administrator mengidentifikasi kebutuhan klien dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan melalui data penelitian yang tepat, mengumpulkan data, mengorganisasikannya, dan mengelolanya. Database Administrator mengembangkan database komputer dan mengaturnya, termasuk menulis instruksi yang tepat melalui bahasa pemrograman komputer untuk mengumpulkan dan memilah data yang relevan. Database Administrator memastikan bahwa sistem komputer dan database bekerja dengan baik sebagaimana mestinya, hal ini dikenal sebagai database performance tuning. Database Administrator menguji sistem database untuk memastikan bahwa mereka bekerja dengan benar, memastikan mem-back up data yang dilakukan secara berkala dalam kasus data akan hilang atau hancur, memulihkan data yang hilang atau rusak, serta memastikan integritas dan keamanan data yang dikumpulkan. Apabila terjadi masalah dalam database, Database Administrator memperbaikinya untuk memastikan berfungsinya sistem, mengawasi dan mengendalikan sumber data dalam sebuah organisasi. Database Administrator memastikan bahwa data yang dibutuhkan selalu tersedia bagi mereka yang membutuhkan sehingga orang yang tepat selalu dapat menemukan data yang benar ketika mereka membutuhkannya, dan menghabiskan banyak waktu di depan komputer.

Sumber : https://abovethefraymag.com/

Remote Procedure Calls

Remote Procedure Calls

Remote Procedure Calls
Remote Procedure Calls

Remote Procedure Calls
Remote Procedure Calls (RPC) memungkinkan suatu bagian logika aplikasi untuk didistribusikan pada jaringan. Contoh :
SUN RPC, diawali dengan network file system (SUN NFS).
DCE RPC, sebagai dasar Microsoft’s COM. • Object Request Brokers (ORBs) memungkinkan objek untuk didistribusikan dan dishare pada jaringan yang heterogen.
Pengembangan dari model prosedural RPC, –Sistem objek terdistribusi, seperti CORBA, DCOM, EJB, dan .NET memungkinkan proses untuk dijalankan pada sembarang jaringan.

12. Middleware Basis Data
Middleware basisdata menyediakan antarmuka antara sebuah query dengan beberapa database yang terdistribusi. Menggunakan, baik arsitektur hub and spoke atau arsitektur terdistribusi, memungkinkan data untuk digabungkan dari beberapa sumber data yang berbeda atau terpisah.

13. Antarmuka Pemrograman Basisdata
Antarmuka pemrograman antar aplikasi dipertimbangkan juga sebagai sebuah middleware
–. Open Database Connectivity (ODBC).
Java Database Connectivity (JDBC )
Perl::DBI

14. Middleware Application Server
Sebuah Web-based Application server, yang menyediakan antarmuka untuk berbagai aplikasi, digunakan sebagai middleware antara browser dan aplikais.
J2EE adalah contoh application serverA wide range of server-side processing has been supported by appservers (i.e.;J2EE).

15. Arsitektur J2EE

16. Universal Computing
● Prinsip Dasar :
– Memungkinkan program yang sama dapat dijalankan pada platform apapun tanpa modifikasi.
Halaman HTML ditulis dalam JavaScript yang dapat dijalankan pada web browser yang mendukung JavaScript.
Aplikasi Java dan applet dijalankan oleh suatu Java Virtual Machine, yang dapat dibuat untuk berbagai sistem operasi Browser dan Java meniadakan kebutuhan platform tunggal.

17. Pertimbangan Pemakaian
Tujuan utama layanan middleware adalah untuk membantu memecahkan interkoneksi beberapa aplikasi dan masalah interoperabilitas. Bagaimana pun juga middleware bukanlah “obat mujarab” :
Ada jarak antara prinsip dan praktek. Beberapa middleware membuat suatu aplikasi tergantung pada suatu produk tertentu.
Sedikitnya jumlah middleware menjadikan rintangan tersendiri. Untuk menjaga lingkungan komputasi mudah diatur, pengembang biasanya memilih sejumlah kecil layanan yang memenuhi kebutuhan mereka
Selama layanan middleware masih memunculkan abtraksi pemrograman terdistrbusi, middleware masih akan memberikan bagi si pengembang suatu pilihan rancangan aplikasi yang cukup sulit. Contoh : pengembang masih harus menentukan layanan atau fungsi apa yang harus diletakkan pada client ataupun server.

18. Tipe Layanan Middleware
1. Layanan Sistem Terdistribusi.
• Komunikasi kritis, program-to-program, dan layanan manajemen data.
• RPC, MOM (Message Oriented Middleware) dan ORB.
2. Layanan Application.
• Akses ke layanan terdistribusi dan jaringan • Yang termasuk : TP (transaction processing) monitor dan layanan database, seperti Structured Query Language (SQL).
3. Layanan Manajemen Middleware.
• Memungkinkan aplikasi dan fungsi dimonitor secara terus menerus untuk menyakinkan unjuk kerja yang optimal pada lingkungan terdistribusi

19. Remoting Architectures
Distributed Computing Environment (DCE) dari Open Software Foundation (OSF). Secara aktualnya adalah sebuah lingkungan pemrosesan terdistribusi yang di dasarkan pada Remote Procedure Call (RPC) Common Object Request Broker Architecture (CORBA) dari Object Management Group’s (OMG).

20. Arsitektur-arsitektur Komponen
Microsoft’s Component Object Model (COM)
Menangani pemaketan dan deployment komponen yang mendukung berbagai bahasa pemrograman
JavaBeans dan Enterprise Java Beans (EJB) diperkenalkan oleh SUN Microsystem
Baik COM dan EJB diperluas menjadi :
COM diperluas ke Distributed COM (DCOM) menggunakan versi perluasan dari DCE RPC sebagai transport.
EJB mendukung komunikasi C/S yang di dasarkan pada Java Remote Method Invocation (RMI).
RMI adalah merupakan model pendistribusian komponen jarak jauh yang menggunakan Java, tanpa perlu Interface Definition.
Language (IDL) untuk mendeskripsikan interfacenya.
Microsoft memperkenalkan arsitektur .NET sebagai arsitektur komponen terbaru dengan basis web service sebagai tulang punggungnya

21. Arsitektur DCE dan Layanan-layanannya

22. Object Management Architecture (OMA)

23. Antarmuka ORB

24. Komponen COM Server

25. Karakteristik COM
COM adalah arsitektur komponen yang memiliki beberapa kekuatan
Ribuan kontrol ActiveX controls (in-process COM components) tersedia di pasar.
Microsoft dan vendor lain membangun banyak tool yang mempercepat perkembangan aplikasi berbasis pada COM.

Layanan tingkat lanjut seperti Microsoft Transaction Server (MTS) dan Microsoft Message Queuing Server (MSMQ) mendukung pengembangan sistem multi-tier C/S.
Microsoft menggunakan nama COM+ untuk menyatakan COM yang berjalan pada layanan tersebut

Baca Juga : 

Middleware Telematika

Middleware Telematika

Middleware Telematika
Middleware Telematika

Middleware Telematika

1. Definisi Middleware
Software yang berfungsi sebagai lapisan konversi atau penerjemah.
Juga sebagai Consolidator dan Integrator.
– Middleware saat ini dikembangkan untuk memungkinkan satu aplikasi berkomunikasi dengan lainnya walaupun berjalan pada platform yang berbeda.
– Saat ini terdapat bermacam produk yang menawarkan middleware.

2. Lapisan Middleware

3. Tujuan dan asal usul Middleware
Middleware adalah S/W penghubung yang berisi sekumpulan layanan yang memungkinkan beberapa proses dapat berjalan pada satu atau lebih mesin untuk saling berinteraksi pada suatu jaringan.

Middleware sangat dibutuhkan untuk bermigrasi dari aplikasi mainframe ke aplikasi client/server dan juga untuk menyediakan komunikasi antar platform yang berbeda
Middleware yang paling banyak dipublikasikan :
Open Software Foundation’s Distributed Computing Environment (DCE),
Object Management Group’s Common Object Request Broker Architecture (CORBA),
Microsoft’s COM/DCOM (Component Object Model)

4. Arsitektur Teknis
Layanan Middleware merupakan sekumpulan S/W terdistribusi yang menempati lapisan antara aplikasi dan sistem operasi serta layanan jaringan di suatu node pada jaringan komputer

5. Layanan Middleware
Menyediakan kumpulan fungsi API (Application Programming Interfaces) yang lebih tinggi daripada API yang disediakan sistem operasi dan layanan jaringan yang memungkinkan suatu aplikasi dapat :
Mengalokasikan suatu layanan secara transparan pada jaringan.
Menyediakan interaksi dengan aplikasi atau layanan lain.
Tidak tergantung dari layanan jaringan.
Handal dan mampu memberikan suatu layanan.
Diperluas (dikembangkan) kapasitasnya tanpa kehilangan fungsinya

6. TP Monitors (Transaction Processing Monitors)
Produk pertama yang disebut middleware. Menempati posisi antara permintaan dari program client dan database, untuk menyakinkan bahwa semua transaksi ke database terlayani dengan baik

7. Karakteristik TP
Cenderung tidak sekedar sebagai koordinator dan pemantau transaksi pada beberapa sesumber data.
Meningkatkan unjuk kerja, kehandalan dan skalabilitas sistem server-side
TP Monitor TP monitors menyusun suatu kerangka kerja untuk pembuatan aplikasi server-side.
TP monitor dapat dengan handal dan efisien mengatur sesumber yng dibutuhkan oleh aplikasi yang sesuai dengan aturan sebuah TP Monitor
CICS (Customer Information Control System) dan IMS/TM (message-based transaction manager) adalah pemrosesan transaksi yang dibebankan pada mainframe. Pada sistem UNIX, BEA’s TUXEDO, BEA’s TOP END, dan IBM’s Encina adalah produk yang digunakan sebagai TP monitors. Pada lingkungan Java, kita mengenal EJB (Enterprise Java Beans)

8. Messaging Middleware.
Merupakan antarmuka dan transportasi antar aplikasi
Menyimpan data dalam suatu antrian message jika mesin tujuan sedang mati atau overloaded.
Mungkin berisi business logic yang merutekan message ke tujuan sebenarnya dan memformat ulang data lebih tepat.
Sama seperti sistem messaging email, kecuali messaging middleware digunakan untuk mengirim data antar aplikasi

Sumber : https://icanhasmotivation.com/digital/

ARSITEKTUR DATABASE SERVER

ARSITEKTUR DATABASE SERVER

ARSITEKTUR DATABASE SERVER
ARSITEKTUR DATABASE SERVER

Klien bertanggung jawab dalam mengelola antar muka pemakai (mencakup logika penyajian data, logika pemrosesan data, logika aturan bisnis).
Database server bertanggung jawab pada penyimpana, pengaksesan, dan pemrosesan database.
Database serverlah yang dituntut memiliki kemampuan pemrosesan yang tinggi
Beban jaringan menjadi berkurang
Otentikasi pemakai, pemeriksaan integrasi, pemeliharaan data dictionary dilakukan pada database server
Database server merupakan implementasi dari two-tier architecture

APPLICATION ARCHITECTURES

Two-tier architecture: Contoh – program klien menggunakan ODBC/JDBC untuk berkomunikasi dengan database
Three-tier architecture:
Contoh aplikasi berbasis Web

Contoh Two-Tier Architecture :

Contoh Three-Tier Architecture :

Arsitektur Three-Tier
Melibatkan lapisan server yang lain selain lapisan database server.

Beberapa Keuntungan Arsitektur Three-Tier :

Keluwesan teknologi
Mudah untuk mengubah DBMS engine
Memungkinkan pula middle tier ke platform yang berbeda
Biaya jangka panjang yang rendah
Perubahan-perubahan cukup dilakukan pada middle tier daripada pada aplikasi keseluruhan
Keunggulan kompetitif
Kekampuan untuk bereaksi thd perubahan bisnis dengan cepat, dengan cara mengubah modul kode daripada mengubah keseluruhan aplikasi

Aplikasi Web dapat dibagi menjadi 2 macam:
Web Statis
Web Dinamis

Teknologi Web :
Teknologi untuk membentuk aplikasi Web yang dinamis :
1.Teknologi pada sisi klien (client-side technology)
2.Teknologi pada sisi server (server-side technology)

Teknologi pada sisi Klien:
1.Kontrol Active X
2.Java applet
3.Client-side script (JavaScript dan VBScript)
4.DHTML (CSS / Cascading Style Sheets)
Teknologi pada sisi Server :
CGI
FastCGI
Proprietary Web Server API (ISAPI dan NSAPI)
Active Server Pages (ASP)
Java Server Pages (JSP) dan Java Servlets
Server-side JavaScript
PHP

Sumber : https://nashatakram.net/bubble-island-2-apk/

DIY Juara Umum Aksioma, Jatim Juara Umum KSM

DIY Juara Umum Aksioma, Jatim Juara Umum KSM

DIY Juara Umum Aksioma, Jatim Juara Umum KSM
DIY Juara Umum Aksioma, Jatim Juara Umum KSM

Kontingen Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menjadi juara umum Ajang Kompetisi Seni

dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) 2017. Sedangkan pemenang untuk Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 direbut oleh Jawa Timur (Jatim).

DIY menjadi juara umum Aksioma dengan memperoleh 7 medali emas, dan 3perak, dan 2 perunggu. Pada bidang KSM, DIY berhasil merebut 3 medali emas, 1 perak, dan 1 peunggu. Perolehan medali kontingen tuan rumah juga disumbangkan dari bidang LKTI dengan 1 perak dan 1 perunggu.

Sementara Jawa Timur menjadi juara umum KSM dengan memperoleh 8 medali emas, dan 3 perak. Di bidang Aksioma, kontingen ini meraih 3 medali emas, 9 perak, dan 1 peunggu. Dalam KSM Insan Cendekia, Jatim hanya memperoleh 1 medali perak.

Tropi juara umum telah diserahkan langsung oleh Sekjen Kementerian Agama

(Kemenag) Nur Syam pada penutupan Aksioma KSM 2017 di GOR Amongroga Yogyakarta, Jumat (11/8) malam. Tropi juara umum diterima oleh kepala kantor wilayah kemenag DIY Lutfi Hamid dan kepala kantor Kemenag Jatim Syamsul Bahri mewakili kedua kontingen tersebut.

Menag Lukman Hakim Syaifudin dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekjen Kemenag Nur Syam mengatakan, selain sebagai ajang silaturahmi dan mempererat persuadaraan peserta dan antar daerah di Indonesia dalam membangun Indonesia. Aksioma KSM ini juga untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, baik di bidang olahraga maupun akademik.

Menag juga mengingatkan kepada peserta yang belum meraih prestasi

selalu menjaga semangat umtuk mengukir prestasi di kegiatan yang akan datang. “Bagi yang belum berhasil dalam kegiatan kali ini, harus menjadi cambuk untuk dapat berprestasi dalam kegiatan yang akan datang,” kata Lukman Hakim Saifuddin. (Andi)

 

Baca Juga :

Imunisasi MR di DIY Berjalan Lancar

Imunisasi MR di DIY Berjalan Lancar

Imunisasi MR di DIY Berjalan Lancar
Imunisasi MR di DIY Berjalan Lancar

Hingga pertengahan Agustus 2017, pelaksanaan imunisasi “measles rubella” atau MR di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah berjalan lancar. Sebanyak 38,43% anak usia TK, SD, dan SMP di DIY telah mendapat imunisasi ini.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, K. Baskara Aji menyebut

, hingga saat ini pihaknya belum menemukan adanya sekolah yang menolak imunisasi MR. Ia juga berharap, pelaksanaan imunisasi MR di wilayahnya akan berjalan lancar.

“Hingga pertengahan Agustus belum ada sekolah yang menolak imunisasi MR, semua berjalan lancar,” ujarnya.

Pihaknya juga siap bekerjasama dengan Dinas Kesehatan untuk melancarkan program ini. Ia menyadari, semua anak harus mendapat imunisasi yang baik untuk mencegah penyakit campak dan rubella.

Sebelumnya juga dilaporkan sempat terjadi penolakan pelaksanaan imunisasi ini

dari beberapa madrasah di DIY. Penolakan itu di antaranya didasarkan anggapan bahwa bahan-bahan vaksin untuk imunisasi tidak halal. Namun, upaya sosialisasi terus dilakukan untuk memberikan pemahaman yang baik tentang imunisasi ini.

Terkait penolakan ini, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY Muhammad Lutfi Hamid mengatakan telah menyiapkan sanksi bagi lembaga pendidikan berbasis keagamaan yang menolak melaksanakan imunisasi MR.

“Jika masih ada kendala berbasis persoalan pemahaman keagamaan tentu kami

akan tindaklanjuti,” kata dia.

Imunisasi MR diberikan untuk melindungi anak Indonesia dari penyakit kelainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella pada saat kehamilan. (Andi)

 

Sumber :

https://memphisthemusical.com/

Sistem SKS di SMP Percepat Masa Pembelajaran Siswa

Sistem SKS di SMP Percepat Masa Pembelajaran Siswa

Sistem SKS di SMP Percepat Masa Pembelajaran Siswa
Sistem SKS di SMP Percepat Masa Pembelajaran Siswa

Tahun ajaran 2017/2018 menjadi awal diterapkannya sistem Satuan Kredit Semester (SKS) dalam pembelajaran di tujuh SMP Kota Yogyakarta. Sistem ini berupaya memfasilitasi siswa yang berpotensi menyelesaikan pendidikan dalam waktu lebih cepat.

Tujuh SMP di Kota Yogyakarta mulai memberlakukan sistem Satuan Kredit Semester

(SKS). Tujuh sekolah ini adalah SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 5, SMP Negeri 7, SMP Negeri 8, SMP Negeri 16, dan SMP Muhammadiyah 3.

Ditemui di ruang keranya, kepala Sekolah SMP Negeri 5 Yogyakarta, Suharno menyatakan pembelajaran dengan sistem SKS menggunakan acuan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 158 Tahun 2014. Sistem ini untuk mewadahi siswa yang memiliki kecerdasan tinggi untuk menyelesaikan pendidikan lebih cepat.

“Sistem SKS dapat memberikan kesempatan pembelajaran bagi anak sesuai kemampuan dan bakat. Saya yakin anak – anak saya cerdas-cerdas, dan dapat mengikuti program ini,” ujarnya, Selasa (22/8).

Suharno melanjutkan, sistem yang akan diterapkan adalah pola empat semester

dan pola enam semester. Anak-anak yang memiliki kemampuan tinggi dapat mengikuti pola empat semester, sehingga pendidikan di SMP dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun.

“Untuk semester pertama, semua anak harus mengambil paket sebesar 48 SKS. Pada akhir semester satu akan dilakukan seleksi untuk menentukan siapa yang bisa mengambil pola empat semester dan siapa yang enam semester,” katanya.

Siswa mampu menunjukkan hasil seleksi yang tinggi berhak mengambil pola empat semester. Sehingga, pada semester berikutnya dapat mengambil masing – masing 64 SKS selama tiga semester. Jika di tengah perjalanan ada siswa yang tidak mampu mengikuti pola empat semester, siswa tersebut dapat berpindah mengikuti pola enam semester.

Hal senada juga dikatakan oleh Nuryani Agustina, kepala SMP Negeri 8 Yogyakarta. Menurutnya, anak didik SMP 8 yang memiliki kualitas tinggi sangat layak mengikuti sistem SKS ini.

Nuryani juga akan berusaha menjaga semangat dan prestasi belajar anak didiknya

agar tidak mengalami penurunan kualitas. Salah satu yang akan dilakukan adalah mengadakan outbound untuk penyegaran pikiran.

“Saya akan berusaha agar anak – anak saya tetap semangat dan berprestasi, salah satunya dengan outbound. Selain itu, para guru juga harus selalu memberikan moitivasi belajar anak didiknya,” ujar Nuryani.

Tahap awal ini, hanya kelas tujuh yang mengikuti sistem SKS. Semrntara siswa kelas di atasnya tetap menggunakan sistem yang lama. Nuryaninjuga menegaskan, sekolah yang dipimpinnya siap menerapkan sistem SKS baik dari sisi sana prasarana maupun guru. (

 

Sumber :

https://appliedanimalbehaviour.com/

60 Persen Ruang Kelas di Majalengka Rusak Berat

60 Persen Ruang Kelas di Majalengka Rusak Berat

60 Persen Ruang Kelas di Majalengka Rusak Berat
60 Persen Ruang Kelas di Majalengka Rusak Berat

Majalengka – Dari total sekitar 8.400 ruang belajar belajar di Kabupaten Majalengka

, 60 persen di antaranya dalam kondisi rusak berat. Sementara 20 persen dalam kondisi rusak sedang dan ringan.
Mayoritas ruang belajar yang rusak adalah sekolah dasar (SD). Hal tersebut mengemuka ketika Dinas Pendidikan (Disdik) memberikan 115 surat keterangan (SK) kepala sekolah di lingkungan Disdik Majalengka, belum lama ini.
“Jadi jelas seperti yang disampaikan Bupati tadi saya butuh data yang jelas dan dilampiri dengan foto ruang belajar yang rusak, agar jelas melaporkan kepada pimpinan jika saya bicara 60 persen sekolah rusak itu bukan main-main, betul itu,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka Ahmad Suswanto.
sekolah rusak 2.jpg
Ilustrasi sekolah rusak. (Dok.ciremaitoday)

Ahmad menjelaskan, dalam menindaklanjuti hal tersebut,

Pemkab sudah mengalokasikan Rp10 miliar untuk pembangunan ruang belajar SD dari permohonan bantuan rehabilitasi yang diajukan tahun 2019 kemarin.
“Alhamdulillah, secara langsung ketika saya melapor kepada bapak Bupati, terkait sekolah yang rusak dan dilampiri dengan foto Bupati respons dan alhamdulillah tahun ini Rp10 miliar dialokasikan khusus untuk rehabilitasi sekolah, dan sekolahnya adalah sekolah dasar (SD) lagi” tutur Ahmad.

Lebih lanjut Ahmad mengungkapkan, pihaknya tahun ini juga mendapatkan bantuan dari dana alokasi khusus

(DAK) sebesar Rp31 miliar. Angka ini turun dibandingkan dengan tahun kemarin yang menyentuh Rp38 miliar yang sebagian besar akan dialokasikan untuk renovasi sekolah.
Bukan hanya itu, kerja keras Disdik melakukan negosiasi program kepada pemerintah Provinsi Jawa Barat juga melalui Bapelitbangda dan DPDR Provinsi berbuah manis dengan turunnya anggaran di tahun 2020 sebesar Rp163 miliar atau naik dari dana tahun 2019 yang hanya Rp78 miliar.
“Alhamdulillah mereka anggota dewan sangat membantu kita yang telah meloloskan program ini. Karena kebutuhan rehab ruang belajar kita mendesak dan berhubungan dengan banyaknya program sarana dan prasarana,” tukas Ahmad Suswanto.

 

Baca Juga :