Umum

Gratis sepanjang masa

Gratis sepanjang masa

Gratis sepanjang masa
Gratis sepanjang masa

Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:

Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000

Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.

Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”

======
Sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau

Sumber : https://sam-worthington.net/

 

CERPEN LUCU KEJUJURAN

CERPEN LUCU KEJUJURAN

Rasanya hari-hari ku pilu dan bingung tanpa arah, karena sudah beberapa bulan aku menunggu panggilan kerja namun tidak kunjung ada. Kerjaan ku di rumah hanya luntang lantung tidak jelas. Aku bingung harus berbuat apa, ingin usaha tapi tidak punya modal. Hingga suatu hari akhirnya kuputuskan untuk menemui teman-teman ku dan berbagi masalahku saat ini.

Aku melihat sebuah dompet berwarna hitam di samping jalan ujung trotoar saat di perjalanan menuju rumah temanku. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri dompet itu dan ku buka untuk melihat isinya.

Terdapat sebuah KTP, SIM A, tabungan yang isinya cukup fantastis serta beberapa surat-surat penting dan sebuah kartu kredit. Dalam pikiran licik ku muncul bisikan untuk menggunakan isi dari dompet itu.

Akan tetapi aku tidak melakukan hal demikian, aku harus tetap mengembalikan dompet ini kepada yang punya. Dengan modal alamat yang tertera dalam KTP itu, setelah pulang dari rumah teman akan segera ku kembalikan dompet itu.

Akhirnya aku dapat menemukan rumah yang beralamat di perumahan elit yang dekat dengan hotel Grand Palace. Lalu ku tekan bel dan tidak lama kemudian oleh seorang tukang kebun yang bekerja di rumah tersebut.

“Permisi pak, apakah benar ini alamat rumahnya pak Budi?” tanyaku pada tukang kebun itu.

“Iya benar, anda siapa?” tukang kebun itu balik bertanya.

“Perkenalkan nama saya Adi, saya ingin bertemu dengan pak Budi, ada suatu urusan yang sangat penting”.

“Kalau begitu baiklah, silakan masuk, kebetulan bapak sedang ada di dalam”, pinta tukang kebun tersebut menyuruhku masuk.

Dengan rasa sedikit malu, ku beranikan diri untuk masuk ke dalam rumah megah pemilik dari dompet yang aku temukan ini.

“Kamu siapa, ada perlu apa mencari saya?” tanya pemilik rumah tersebut kepada ku.

“Sebelumnya mohon maaf pak, perkenalkan pak saya Adi, saya menemukan dompet bapak di trotoar dekat hotel”. Jawabku menjelaskan.

“Oh iya Nak silhkan duduk”. Perintah pak Budi.

Kemudian aku duduk di dekat pak Budi dan kuserahkan dompet yang kutemukan tersebut. Dengan penasaran pak Budi memberi ku pertanyaan “Kamu tinggal di mana nak Wagino? Serta bekerja di mana?’

“Saya tinggal di kompleks Griya Cempaka pak. Sudah berbulan-bulan saya melamar akan tetapi masih belum dapat panggilan juga”.

“Kamu sarjana apa nak? Tanya pak Budi asalkan seru.

“Saya lulusan jurusan manajemen pak”. Jawabku.

“Kalau begitu pas sekali, di perusahaan saya sedang membutuhkan staf administrasi. Apabila nak Adi tertarik langsung saja besok pagi jam 9 menuju ke kantor”.

“Ini kartu nama saya” sambung pak Budi dengan menyodorkan sebuah kartu nama kepada ku.

“Apakah dengan membeli sepatu di jajaran seperti ini akan mendapatkan harga yang lebih murah?” tanyaku pada diri sendiri.

“Ini seperti sebuah keajaiban dan sedikit masih belum percaya”.

Baca Juga :

Tiga Babi Dan Serigali

Tiga Babi Dan Serigali

Suatu ketika tersebutlah tiga babi kecil yang senang bermain. Sepanjang musim panas, ketiga babi menjelajahi hutan, bermain permainan dan bersenang-senang. Tidak ada yang sebahagia ketiga babi kecil tersebut. Mereka mudah bergaul dengan siapa saja. Kemanapun mereka pergi, mereka disambut dengan hangat.

Namun musim panas hampir selesai, dan mereka menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah rumah untuk menghadapi musim gugur dan musim salju. Ketiga babi akhirnya berdiskusi mengenai apa yang akan mereka lakukan. Setiap babi memiliki pendapat berbeda.

Babi kecil pertama berpendapat bahwa dia akan membangun sebuah pondok dari jerami. “Ini hanya akan membutuhkan satu hari,” dia berkata. Tapi kedua saudaranya tidak setuju. Mereka beranggapan rumah yang terbuat dari jerami sangat rapuh.

Babi kecil kedua mengusulkan untuk mencari papan kayu sebagai bahan untuk membuat rumah. Memang akan membutuhkan waktu dua hari untuk membuat rumah dari kayu, tetapi rumah dari kayu lebih kokoh dari pada rumah yang terbuat dari jerami.

Sayangnya babi kecil ketiga tidak menyukai rumah dari kayu. Babi kecil ketiga berpendapat bahwa membutuhkan waktu, kesabaran dan kerja keras untuk membangun sebuah rumah yang cukup kuat berdiri dari angin, hujan, dan salju, dan yang terpenting bisa melindungi dari srigala. Akhirnya babi kecil ketiga memutuskan untuk membuat rumah dari batu bata.

Hari telah berganti, dan rumah babi kecil ketiga mulai tampak bentuknya, Bata demi bata. Dari waktu ke waktu, kedua saudaranya mengunjunginya dan menertawainya.

“Mengapa kamu bekeja begitu keras? Mengapa kamu tidak datang dan bermain saja bersama kami?”

Tetapi babi kecil ketiga tersebut menolak berkata “Aku harus menyelesaikan rumahku ini dulu. Rumah ini harus kuat dan kokoh. Setelah itu saya akan bermain dengan kalian!” kata babi kecil ketiga.

Suatu ketika, babi kecil yang pertama menemukan jejak kaki srigala di dekat rumahnya. Seketika itu juga dia langsung masuk ke rumahnya yang terbuat dari jerami untuk berlindung. Dan memang benar ada seekor srigala yang datang dan ingin memakannya.

“Keluarlah babi kecil!” teriak srigala. “saya ingin berbicara dengan mu!”

“Tidak! Saya akan tetap di sini!” jawab babi kecil yang pertama dengan suara yang kecil.

“Saya akan membuat mu keluar.” Geram srigala dengan marah. Si Srigala kemudian menggembungkan dadanya dan mengambil napas sangat dalam. Kemudian dia meniupnya dengan segala kekuatannya, tepat ke arah rumah jerami tersebut. Dan semua jerami milik babi yang pertama tersebut pun tenlempar, jatuh berserakan.

Terpana dengan kecerdikannya sendiri, srigala tersebut tidak menyadari bahwa babi kecil tersebut telah merayap di bawah tumpukan jerami, dan berlari ke rumah kayu milik saudaranya. Ketika dia menyadari bahwa babi kecil tersebut telah melarikan diri, srigala tersebut bertambah buas.

“Kembalilah.” dia berteriak, mencoba untuk menangkap babi tersebut ke dalam rumah kayu tersebut. Babi kecil kedua menyambut saudaranya dengan gemetar dan takut.

“Saya harap rumah ini tidak akan runtuh! Mari kita menahan pintu jadi dia tidak akan bisa menjebolnya!” Babi kecil ke dua mencoba untuk bertahan. Memang benar, ketika si srigala mencoba menghancurkan rumah kayu tersebut, gagal. Tapi si srigala tidak menyerah begitu saja. Dia kemudian mengambil nafas yang sangat dalam, lebih dalam dan menghembuskannya dengan sangat kuat.

“WHooooum” Rumah kayu tersebut pun runtuh seperti tumpukan kartu-kartu.

Untungnya, babi kecil yang ketiga telah melihat kejadian tersebut dari jendela pada rumah batu-batanya. Dengan cepat dia membuka pintu untuk saudara-saudaranya yang sedang melarikan diri dari cengkraman srigala jahat. Melihat kedua buronanya melarikan diri dan berlindung di rumah berikutnya, si srigala tersebut pun berlari untuk mengejarnya.

Kali ini, serigala tersebut ragu. Rumah ini terasa lebih kuat dan kokoh dari pada ke dua rumah yang telah dia hancurkan. Sang srigala mencoba untuk meniupnya sekali, dua kali, tiga kali dan seterusnya, tetapi semuanya sia-sia. Rumah tersebut tidak bergeser seinci pun. Melihat ketidak berdayaan si srigala tersebut, ketakutan mereka berlahan mulai memudar.

Cukup lelah dengan usahanya, serigala tersebut memutuskan untuk mencoba cara lain. Dia memanjat tangga yang di dekatnya dan bermaksud masuk ke rumah tersebut melalui cerobong asap. Tetapi, babi kecil yang ketiga sudah menduga srigala akan masuk melalui cerbong asap. Kemudian dia langusng bergegas memberitahu ke dua saudaranya tersebut untuk menyalakan api di tungku perapian untuk menghalangi srigala masuk.

Ketika si srigala masuk melalui cerobong asap rumah tersebut, dia perlahan merasakan sesuatu yang hangat di ekornya. Tapi karena sangat lapar, dia tetap menuruni cerobong asap tersebut. Semakin dalam dia menuruni cerbong asap tersebut, ekornya terasa sangat panas dan tercium bau daging gosong. Benar saja ternyata ekor terbakar api. Dengan ekor terbakar, si srigala memanjat dan keluar dari cerebong asap tersebut dan kemudian lari ke hutan.

Ketiga babi kecil tersebut senang, menari mengelilingi halaman, dan mulai bernyanyi.”Tra-la-la!Tra-la-la! srigala hitam yang jahat itu tidak akan pernah kembali…!”

Sejak hari itu, ketiga babi bahu membahu bekerja keras untuk membangun rumah yang baru dan kokoh. Mereka mendirikan dua rumah yang terbuat dari batu bata seperti saudaranya. Serigala tersebut sesekali kembali untuk menjelajahi pekarangan mereka, tetapi ketika dia melihat tiga cerobong asap, dia teringat kejadian saat ekornya terbakar. Dia pun takut dan akhirnya pergi. Dan ketiga babi tersebut pun hidup aman, dan bahagia untuk selamanya.

Baca Juga :

Seorang Pawang yang Menangkap Ular Beku

Seorang Pawang yang Menangkap Ular Beku

Seorang Pawang yang Menangkap Ular Beku
Seorang Pawang yang Menangkap Ular Beku

Alkisah, seorang pawang ular ternama pergi ke daerah pegunungan untuk menangkap ular dengan keahliannya. Saat itu, salju turun dengan sangat deras. Pawang itu pun mencari ke setiap sudut gunung untuk menemukan ular yang besar. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menemukan bangkai ular naga yang amat sangat besar.

Pawang itu senang sekali dan ia ingin menyombongkan tangkapannya di hadapan seluruh penduduk kota. Ia membungkus naga itu dan membawanya ke Baghdad untuk dipertontonkan. Turunlah ia dari gunung dengan menyeret ular sebesar pilar istana. Ia sampai di kota dan segera menceritakan kehebatannya kepada setiap orang yang ia temui. Ia katakan bahwa ia telah bergumul dan berkelahi habis-habisan sampai ular itu mati di tangannya.

Masalahnya, ternyata ular naga itu tidak benar-benar mati. Ia hanya teridur karena kedinginan akibat salju yang sangat tebal. Si pawang tak mengetahui hal ini. Ia malah mengadakan pertunjukan untuk umum di tepian sungai Tigris. Berduyun-duyun orang datang dari seluruh penjuru kota untuk melihat pemandangan luar biasa; seekor ular naga dari gunung yang mati di tangan seorang pawang ular.

Semua orang mempercayai cerita pawang ular itu dan mereka tak sabar ingin melihat binatang yang langka ini. Semakin banyak pengunjung, semakin besar pula pemasukan yang didapat sang pawang. Oleh karena itu, pawang itu menunggu lebih banyak lagi orang yang datang sebelum ia membuka bungkusan ular naga. Dalam waktu singkat, tempat itu sesak dipenuhi para pengunjung. Sang pawang lalu mengeluarkan ular besar itu dari kain wol yang membalutnya selama perjalanan dari gunung.

Meskipun ular itu diikat kuat dengan tambang, sinar mentari Irak yang terik telah menerpa bungkusan ular itu selama beberapa jam, dan kehangatan itu mengalirkan kembali darah di tubuh ular. Perlahan-lahan, sang naga terbangun dari tidurnya yang panjang. Begitu ular itu bangun, ia segera meronta dari ikatan tambang yang melilitnya. Para penonton menjerit ketakutan. Mereka berhamburan lari ke berbagai arah dengan paniknya. Kini, naga itu telah
lepas dari ikatan dan ia mengaum keras seperti seekor macan. Banyak orang terbunuh dan terluka karena peristiwa ini.

Si pawang ular berdiri terpaku ketakutan. Ia menjerit-jerit, “Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku bawa dari gunung?” Ular naga lalu melahap sang pawang dalam sekali telan. Dengan cepat ia menyedot darahnya dan meremukkan tulang-tulangnya seperti ranting-ranting kering.

Rumi menutup cerita itu dengan berkata: Ular naga adalah perlambang nafsu lahiriah. Bagaimana matinya ular itu? Nafsu hanya dapat beku dengan penderitaan dan kekurangan. Berilah nafsu itu kekuatan dan hangatnya sinar mentari, maka ia akan terbangun. Biarkan ia beku dalam salju dan ia takkan pernah bergerak. Namun bila kau melepaskannya dari ikatan, ia akan melahapmu bulat-bulat. Ia akan meronta liar dan menelan semua hal yang ia temui. Kecuali kau sekuat Musa dengan tongkat mukjizatnya, ikatlah selalu ular nagamu dalam lilitan keimanan.

Baca Juga : 

Sebuah Kebetulan Yang Menakjubkan

Sebuah Kebetulan Yang Menakjubkan

Sebuah Kebetulan Yang Menakjubkan
Sebuah Kebetulan Yang Menakjubkan

Tahun 1945, seorang anak lelaki berusia 14 tahun dimasukkan ke dalam sebuah kamp konsentrasi. Tubuhnya tinggi, kurus, namun senyumnya amat menyenangkan. Setiap hari, seorang gadis kecil menghampirinya dari balik pagar. Gadis itu memanggil anak lelaki itu dan menanyakan apakah ia bisa berbahasa Polandia.

Anak lelaki itu menjawab, ya. Gadis kecil berkata padanya bahwa ia tampak lapar, dan dibenarkan oleh anak lelaki itu. Kemudian gadis kecil itu meraih sebuah apel dari sakunya dan diberikan pada anak lelaki itu. Anak lelaki itu mengucapkan terima kasih dan gadis kecil itu pergi kembali. Keesokan harinya gadis kecil itu datang lagi, membawakan sebuah apel dan diberikan pada anak lelaki itu. Setiap hari gadis itu menemui anak lelaki dari balik pagar, dan dengan gembira memberikan sebuah apel sambil bercakap-cakap sejenak.

Suatu hari anak lelaki itu berkata bahwa ia tak bisa menemuinya lagi. Ia akan dikirim ke kamp konsentrasi yang lain. Kemudian anak lelaki itu meninggalkan gadis kecil dengan air mata menitik di wajahnya. Ia sedih dan berharap bisa bertemu dengan gadis kecil itu lagi. Kini gadis kecil itu hanya bisa dipandangi dari balik ba yang annya saja.

Akhirnya anak lelaki itu keluar dari kamp konsentrasi dan berimigrasi ke Amerika Serikat. Pada tahun 1957 seorang rekan mengajaknya pergi menemui seorang gadis dan melakukan sebuah kencan buta. Ia sama sekali tak mempunyai ba yang an apa pun tentang gadis itu, namun ia tetap mau menemuinya. Mereka lalu mengadakan makan malam bersama dan mulai bercakap-cakap dalam bahasa Polandia. Kemudian mereka berbincang-bincang tentang kamp konsentrasi. Gadis itu berkata bahwa pada saat itu pun ia berada di Polandia. Ia pun bercerita bahwa ia sering berbicara dengan seorang anak lelaki dan memberikan sebuah apel pada anak lelaki itu setiap hari. Lelaki itu bertanya apakah anak lelaki itu bertubuh tinggi, kurus dan pernah berkata bahwa ia takkan bisa menemuinya lagi karena harus pergi meninggalkan kamp konsentrasi itu? Gadis itu mengiyakan.

Itu dia! Itulah gadis itu yang setiap hari memberikan apel padanya. Setelah 12 tahun, setelah perang usai, dan kini di negara yang berbeda, mereka bertemu lagi. Saat itu juga, lelaki itu meminang gadis itu dan berjanji takkan pernah meninggalkan gadis itu. Kemudian mereka menikah dan hidup bahagia.

Apa arti semua ini? Ini adalah sebuah cerita cinta. Mukjizat benar-benar ada, dan senantiasa terjadi dalam hidup kita.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/

Kebijakan Sebuah Kata

Kebijakan Sebuah Kata

Kebijakan Sebuah Kata
Kebijakan Sebuah Kata
Satu percakapan bersama orang bijak sama nilainya dengan belajar sebulan dengan membaca buku.-Peribahasa Cina
Bukankah luar biasa bagaimana seorang yang memberikan gagasannya pada waktu dan tempat yang tepat dapat mengubah jalan sejarah hidupmu? Ini terjadi pada hidupku. Waktu aku berumur 14, aku menumpang dari Houston, Texas, melalui ElPaso menuju California. Aku sedang mengikuti impianku, berkelana bersama matahari. Aku drop-out dari sekolah menengah karena memiliki cacat-belajar dan ingin berselancar dia atas ombak terbesar di dunia, mula-mula di California, lantas di Hawaii, tempat tinggalku di kemudian hari.
Saat tiba di tengah kota El Paso, aku bertemu dengan seorang gelandangan tua ditikungan jalan. Ia melihatku berjalan, menghentikanku, lalu bertanya padaku waktu aku lewat. Ia bertanya apakah aku kabur dari rumah, mungkin karena aku kelihatan masih muda. Kukatakan padanya, “Tidak juga, Pak,” karena ayahku mengantarku ke jalan raya di Houston dan merestuiku dengan mengatakan, “Yang penting adalah mengikuti impianmu dan hati nuranimu, Nak”.Pak gelandangan itu kemudian bertanya apakah aku mau dibelikan secangkir kopi.Aku bertanya padanya, “Tak usah, Pak, tapi kalau soda, aku mau”.
Kami berjalanke sebuah toko di pojok jalan dan duduk di bangku putar sambil menikmati minuman.Setelah mengobrol selama beberapa menit, Pak gelandangan yang ramah itumenyuruhku mengikutinya. Ia berkata padaku bahwa ia ingin menunjukkan dan berbagi sesuatu yang hebat denganku. Kami berjalan beberapa blok sampai ke Perpustakaan Umum El Paso. Kami menaiki tangga depan dan berhenti di stand penerangan kecil. Di sini Pak gelandangan berbicara dengan seorang wanita tua yang suka tersenyum, dan bertanya padanya apakah dia mau mengawasi barang-barangku sebentar selagi aku dan dia masuk ke perpustakaan.
Aku meninggalkan barang milikku pada nenek baik ini dan masuk ke dalam ruang belajar yang besar dan indah. Pak gelandangan mula-mula mengajakku ke sebuah meja dan memintaku duduk dan menunggu sebentar sementara ia mencari sesuatu yang istimewa dalam rak buku.Tidak berapa lama kemudian, ia kembali mengepit dua buah buku tua dan menaruhnya di meja. Lalu ia duduk disebelahku dan berbicara. Ia mulai dengan beberapapernyataan yang sangat istimewa yang mengubah hidupku. Katanya, “Ada dua hal yang ingin saya ajarkan padamu, anak muda.””Nomor satu, jangan menilai buku dari sampulnya, karena sampul bisa menipumu.”Ia meneruskannya dengan berkata,”Kamu pasti mengira saya ini gelandangan, betultidak, anak muda ?”Kataku, “Eh, betul, rasanya, Pak.””Anak muda, saya punya kejutan untukmu.
Saya adalah salah seorang terkaya didunia. Saya mungkin memiliki apa saja yang diinginkan orang. Saya berasal daridaerah Timur Laut dan memiliki apa saja yang dapat dibeli dengan uang. Tapi setahun yang lalu, istri saya meninggal, dan sejak itu saya banyak berpikir tentang hidup. Saya sadar bahwa ada beberapa hal yang belum pernah saya alami dalam hidup ini, salah satunya adalah apa rasanya hidup sebagai gelandangan dijalanan. Saya berjanji pada diri sendiri untuk melakukan hal itu selama setahun.
Selama setahun ini, saya berkelana dari kota ke kota. Jadi, kamu lihat, jangan pernah menilai buku dari sampulnya, karena sampul bisa menipumu”.”Nomor dua adalah belajar cara membaca, nak. Karena hanya ada satu hal yang takdapat direnggut dari dirimu, yaitu kebijakanmu”. Pada saat itu , ia meraih ke depan mengenggam tangan kananku dan menaruhnya diatas buku yang diambilnya dari rak. Buku itu adalah buah tangan Plato danAristoteles – karya klasik abadi dari zaman kuno. Pak gelandangan itu kemudian mengajakku kembali pada wanita tua yang tersenyum di dekat jalan masuk itu, menuruni tangga, dan kembali ke jalan dekat tempatkami bertemu tadi. Permintaan perpisahannya adalah agar aku tidak melupakan apayang diajarkannya. Aku tak pernah lupa.

PERJUANGAN MELAWAN TUMOR

PERJUANGAN MELAWAN TUMOR

Hampir seluruh manusia di Dunia ini mengenal istilah kanker atau tumor. Yaitu sebuah penyakit yang sangat berbahaya apabila dibandingkan dengan penyakit yang lainnya. Apabila seseorang telah mengidap penyakit kanker maka harapan hidupnya telah sampai di ambang-ambang. Terlebih apabila level kanker yang diderita telah tinggi serta merupakan jenis kanker langka yang sulit untuk diobati.

Penyakit kanker ini selain menyerang fisik seseorang juga dapat dikatakan dapat menyerang serta mematikan mental dengan tiba-tiba. Mereka yang telah di vonis kanker oleh pihak medis, tentu akan merasakan bahwa hidupnya akan segera berakhir.

Sangat jarang bahwa penderita kanker mempunyai semangat hidup yang kuat supaya dapat bertahan hidup. Walaupun penyakit kanker ataupun tumor ini terbilang sebagai penyakit yang sangat sulit untuk di atasi, akan tetapi tidak dapat di pungkiri bahwa tidak semua pasien kanker akan berujung pada kematian. Entah itu jenis kanker atau tumor apapun.

Bukti yang menunjukkan bahwa kanker dapat disembuhkan telah ada pada berbagai wilayah ataupun penderita di berbagai usia. Salah satunya yaitu sebuah kisah yang di dapat dari seorang gadis yang akhirnya dapat bebas dari kanker setelah menjalani kemoterapi dalam beberawa jangka waktu. Padahal gadis tersebut telah divonis mengalami kanker sejak usianya masih 4 bulan.

Ini merupakan kisah seorang gadis yang bernama Silvi di mana Silvi telah melalui berbagai pengobatan tumor selama satu tahun. Sedangkan jenis tumor yang diderita bukan merupakan jenis tumor biasa, akan tetapi jenis tumor yang sangat berbahaya karena menyerang otak.

Tentu ini begitu sangat menyakitkan bagi Silvi saat usianya masih balita, sebab harus melalui serangkaian pengobatan untuk kategori jenis penyakit ini.

Semenjak di vonis mengidap kanker otak pada usia 4 tahun. Akhirnya Silvi harus menjalani kemoterapi di sebuah rumah sakit bersamaan dengan banyak penderita lain. Silvi harus menjalani kemoterapi sebab semenjak di vonis menderita penyakit tersebut dan dokter telah mengatakan bahwa tumor tersebut tidak dapat di operasi sehingga satu-satunya langkah adalah dengan kemoterapi.

Walaupun tidak harus di operasi untuk menyembuhkan penyakit Silvi, ternyata lama kelamaan tumor di otak Silvi dapat menyusut serta pada akhirnya Silvi dapat sembuh kembali. Sehingga cerita ini dapat memotivasi banyak orang untuk sembuh sehingga pada akhirnya dapat hidup normal kembali.

Karena saking senangnya, ketika itu Silvi terus menari dengan sangat senangnya serta membunyikan bel congratulation di rumah sakit yang telah disediakan. Hal ini dapat membuka mata dari setiap pasien terutama pasien pengidap tumor serta kanker ganas bahwa setiap penyakit pasti dapat sembuh, entah dengan cara pengobatan yang sangat maksimal atau dari sebuah keajaiban.

Bahkan seorang bayi juga dapat sembuh dari suatu penyakit karena adanya semangat serta kemauan yang begitu kuat. Hal ini tentu dengan sebuah doa yang tiada henti untuk di panjatkan pada sang pencipta. Takdir memang tidak dapat dirubah, akan tetapi jangan sampai meninggalkan dengan yang namanya usaha.

Baca Juga :

Kunci Sukses Dalam Perjuangan Meraih Mimpi

Kunci Sukses Dalam Perjuangan Meraih Mimpi

Untuk Anda yang sedang berjuang meraih mimpi-mimpi, apa kabar?

Mungkin di antara Anda ada yang sedang melakukan perjuangan dalam pendidikan, karir, keluarga, hingga rumah tangga. Berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik dan senantiasa merasakan BAHAGIA dan SUKSES.

Dalam perjuangan itu, ada yang masih memulai, ada yang sudah kehabisan energi di tengah jalan, dan ada juga yang meski jatuh berkali-kali, tetap mencoba berdiri dan berjuang kembali. Apa pun keadaan Anda saat ini, pastikan perjuangan itu mengantongi 3 kunci. Kunci yang umumnya bisa memotivasi, memberikan energi, dan meningkatkan percaya diri untuk merealisasikan mimpi-mimpi.

3 kunci sukses perjuangan meraih mimpi itu adalah:

KETAKUTAN
Takut itu hal yang wajar dirasakan semua manusia. Baik itu pahlawan atau seorang pengecut sekali pun, pasti pernah merasakan takut. Bedanya, pahlawan dan para pemenang mengatasi ketakutan itu, sementara para pengecut memilih lari.

Dalam proses perjuangan, tentunya kita akan bertemu dengan tantangan, masalah, ujian, dan bentuk krisis lainnya. Meski demikian, tetaplah maju dan jangan berhenti. Pelajari dengan baik bagaimana kunci mengatasi ketakutan dan mengubahnya jadi kekuatan.

STRATEGI
Ingatkah Anda pertarungan antara George Foreman dan Muhammad Ali. Publik tahu Foreman memiliki kekuatan, kecepatan, dan postur tubuh yang melebihi Ali. Usianya pun lebih muda. Namun, dengan strategi Ali memenangkannya.

Ali bersandar di tali dan membiarkan Foreman memukulinya sambil menunggu Foreman kehabisan energi. Ali tahu cara itu mengurangi efek pukulan. Setelah ada kesempatan, “baammm”, Ali sukses membuat Foreman K.O.

Perjuangan itu butuh strategi, jika ingin mencapai kemenangan secara tepat. Tanpa strategi, perjuangan terasa tak tentu arah dan justru membuat diri sendiri bingung mau di bawa ke mana. Strategi ini juga yang sering menjadi kunci, seberapa banyak, seberapa besar, dan seberapa cepat, tujuan atau target dalam mimpi tercapai.

LEWATI BATAS DIRI
Mereka yang sukses dalam segala hal, selalu mendorong dirinya melakukan hal lebih, melebihi batas kemampuannya. Ini karena setiap orang tumbuh dalam persaingan dengan terus meningkatkan standarnya.

Untuk itu, dalam perjuangan sangat penting mempelajari berbagai hal baru. Semua itu akan membuat kita semakin matang dan baik dalam menghadapi hidup. Seperti kata “Menuju tak terbatas dan melampauinya.”

Meraih impian, apa pun itu tidak hanya mengatakan “saya ingin sukses” atau “saya ingin bahagia”. Anda wajib mengaplikasikannya secara konsisten dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Ingat! hidup adalah perjuangan.

Selamat berjuang mewujudkan mimpi! Semoga Kunci Sukses Dalam Perjuangan Meraih Mimpi Tadi Mampu Membuat Kita Semangat dan Menjadi Kenyataan.

Baca Juga :

Tuhan Memberiku Banyak Anugerah

Tuhan Memberiku Banyak Anugerah

Tuhan Memberiku Banyak Anugerah
Tuhan Memberiku Banyak Anugerah

Namaku Aini (nama samaran), aku dilahirkan di sebuah kota besar di Timur Indonesia, usiaku saat ini 27 tahun dan memilki satu adik dan dua orang kakak. Perjalanan hidupku memang mengalami banyak liku-liku, suka duka, bahkan kepahitan hidup yang membuatku terus meneteskan air mata, hingga rasanya pada titik tertentu air mata ini habis terkuras oleh kepedihan hidup.

Pada mulanya kehidupanku terasa berjalan sangat normal. Keluarga kami cukup dihormati, karena ayahku adalah seorang kepala bagian di sebuah BUMN. Ayah adalah seorang sosok yang begitu hangat terhadap keluarga, walau dari mulutnya jarang terucap kata-kata sayang dan cinta, namun dari perlakuannya terhadap kami, aku yakin bahwa ayah amat menyayangi kami sekeluarga. Namun untuk urusan pendidikan, ayah bersikap sangat tegas dan keras.

Kebahagiaan semasa kecil, ternyata berlalu dengan sangat singkat. Semua bermula dengan jatuh sakitnya kakakku yang tertua, Sebut saja namanya Irfan (nama samaran). Irfan adalah anak kesayangan ayah, yang menurut ayah anak terpintar di keluarga dan kelak akan dapat membahagiakan kami semua.

Sakitnya Irfan membuat keluarga terutama ayah, begitu tertekan. Di pagi hari, tiba-tiba rumah kami dipenuhi sanak famili. Dan seorang tante membisikan ketelingaku bahwa Irfan sudah meninggal dunia. Seketika bumi sepertinya hendak runtuh dan aku menjerit histeris. Tak lama berselang mobil jenzah tiba, kulihat tubuh kakakku terbujur kaku.

Beberapa bulan sejak kepergian Irfan, ayah memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Menurut ayah kenangan yang ada di rumah selalu mengingatkan ayah pada almarhum Irfan. Setelah menjual rumah dan tanah, ayah lantas mengambil pensiun dini dan mencoba menjadi pengusaha dengan membeli beberapa kios untuk berjualan. Namun usaha yang dirintis ayah tidak membuahkan hasil.

Lambat laun, keadaan ayah semakin melemah. Ayah yang semula kukenal sebagai seorang penuh dengan fitalitas dan semangat, saat itu mulai sering berputus asa. Ia selalu saja mengatakan jika Irfan masih hidup, mungkin kehidupan keluarga tidak akan seperti ini. Setelah itu beliau jatuh sakit. Saat diperiksa dokter yang merawatnya mengatakan bahwa ayah mengalami depresi dan tekanan mental yang luar biasa hingga di otaknya ditemui sesuatu yang ganjil.

Di saat keadaan yang serba sulit itu bertambah sulit saat kakak keduaku mengalami perilaku yang tak lazim. Ia mulai suka menyendiri dan bahkan berbicara sendiri, pergi pagi hari dan puang saat malam menjelang. Semakin lama tingkahnya semakin menghawatirkan, seringkali ia marah-marah tanpa sebab, berteriak dan menangis. Dan semua itu semakin memperparah keadaan ayah.

Dua tahun lamanya kami berjuang untuk kesembuhan ayah dan kakakku. Seringkali ibu harus mondar-mandir dari kamar ayah untuk menghiburnya, lalu ke kamar kakak untuk meredakan emosinya. Itu semua membuat keadaan ekonomi kami semakin hancur, karena ibu terpaksa harus mempergunakan tabungannya untuk keperluan sehari-hari dan pengobatan ayah serta kakakku.

Beberapa minggu kemudian, ayah akhirnya tak kuasa lagi memendam tekanan batinnya, beliau akhirnya menghebuskan nafasnya yang terakhir, dalam kematiannya yang begitu menyedihkan, ayah membawa luka hati karena menyaksikan anak keduanya mengalami gangguan jiwa dan aku hanya bisa menjerit histeris dan sekali lagi air mata ini mengalir deras membasahi seluruh jiwa yang lara.

Namun, hidup memang harus kami lanjutkan. Selanjutnya aku tumbuh menjadi remaja yang yang tak termotifasi dengan hal apapun. Kalaupun aku berkuliah, itu karena aku tak tega dengan ibu yang ingin melihatku berhasil dalam pendidikan. Itupun sering terganggu dengan keadaan kakak yang terus saja membuat ibuku susah bahkan tak jarang ibu menangis dan merintih teramat sedih, menahan beban hidupnya yang demikian pahit.

Dengan susah payah aku mencoba berkonsentrasi menyelesaikan kuliahku. Kadang-kadang aku harus meminjam uang dari teman-teman untuk membayar kembali mata kuliah yang harus kuambil ulang, karena uang kuliah yang diberikan ibu seringkali kupakai untuk hal-hal yang tidak semestinya.

Dan aku harus menerima resiko dari apa yang telah aku lakukan. Satu persatu teman seangkatanku lulus dan mendapat pekerjaan dan aku tertinggal dengan hutang-hutang yang harus aku bayar. Aku hanya bisa memohon kiranya Tuhan memberiku kekuatan agar aku mampu melewati cobaan demi cobaan.

Perlahan-lahan mulai nampak jalan terang. Untunglah Tuhan masih memberiku jalan. Aku mencoba meneruskan usaha yang dirintis ayah dan juga memberikan les privat buat anak-anak tetanggaku, dan mulai mengumpulkan uang hingga aku bisa membayar hutang dan melunasi cicilan uang kuliahku. Dan akupun berhasil menyelesaikan kuliahku walau dengan hasil yang pas-pasan.

Semakin hari aku semakin sadar bahwa hidup tanpa Tuhan adalah kebodohan dan aku lebih baik mati daripada hidup jauh dari Tuhan. Aku yakin bahwa keberhasilanku mengatasi permasalahan hidup adalah juga karena kuasa-Nya. Aku merasa selama ini tak pernah mensyukuri apa yang telah aku dapatkan, padahal masih banyak orang yang lebih menderita dari aku, Dan kini aku sadar, bahwa Tuhan telah memberiku banyak anugerah yang tidak aku sadari.

Baca Juga : 

Kasih Sayang Ibu

Kasih Sayang Ibu

Kasih Sayang Ibu
Kasih Sayang Ibu

Sang ibu berdiri di depan hakim menguraikan kisahnya yang pahit dengan anak perempuannya. Anak perempuan satu-satunya. Sang ibu telah mengorbankan masa mudanya, kesenangan dan kebahagiaannya demi anaknya.

Dia berkorban tidak keluar menonton hanya agar anaknya tidak ditinggal sendirian. Dia memakai pakaian yang koyak agar dapat membelikan anaknya gaun baru. Dia selalu mendahulukan anaknya atas dirinya; anak yang makan lebih dahulu dan ibu yang makan sisa anaknya.

Tetapi sang anak mengingkari budi ibu. Dia tidak menyukainya bahkan membencinya. Sang anak menilai ibunya sebagai penjaga penjara yang terbuat dari emas, tetapi melarangnya keluar bersama temannya dan menuntut darinya pertanggungjawaban yang berat setiap hari.

Kalau ia pulang, ibu selalu bertanya, “Dari mana Engkau? Siapa saja yang Engkau temui? Dan apa saja obrolan kalian?” Kalau sang anak duduk terdiam, ibunya bertanya, “Mengapa diam? Apa yang Engkau pikirkan?”

Perintah ibu pun tidak henti-hentinya; Cuci kakimu! Sisir rambutmu! Gosok gigimu! Duduk yang baik! Jangan cibirkan bibirmu ketika bicara! Dan lain-lain.

Sang anak memutuskan bahwa cara satu-satunya untuk bebas dari aneka belenggu itu adalah menghabisi ibunya. Maka setiap hari ia mencampurkan sedikit racun dalam makanan ibunya, yang mengakibatkan kesehatan sang ibu memburuk hingga dimasukkan ke rumah sakit. Para dokter menemukan bahwa ada racun yang diberikan kepadanya sejak tiga bulan yang lalu dan seandainya itu berlanjut selama seminggu lagi, niscaya ibu yang malang itu akan meninggal.

Polisi turun tangan dan akhirnya sang anak mengaku bahwa dialah yang memberi racun itu. Di depan pengadilan sang anak mengaku bahwa ia tidak menyesal atas perbuatannya karena dia tidak menyukai ibunya dan memang ingin melepaskan diri darinya. Hakim peradilan Sheffield Inggris terperanjat dan menyatakan bahwa kejahatan tersebut amat serius.

Ini adalah upaya pembunuhan yang disengaja dan dengan tekad yang kuat. Karena itu sang hakim memutuskan bahwa sang anak harus dimasukan dalam penjara anak-anak, tetapi karena undang-undang dalam kasus semacam ini menetapkan keharusan adanya persetujuan tertulis ibu, maka sang hakim mengharap kiranya sang ibu membubuhkan tanda tangan untuk persetujuannya.

Sang ibu memegang pena dengan tangan gemetar dan mulai menggoreskan tanda tangannya atas putusan itu. Tetapi tiba-tiba dia berhenti dan pena terjatuh dari tangannya. Ia lalu menoleh kepada hakim dengan air mata yang berlinang sambil berkata, “Saya harap berilah aku kesempatan sekali lagi, juga dia.

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/