Israil dari Ibrahim bin Muhajir dari An Nakh’i menyatakan bahwa

Safar Ketika Hari Jumat

Adapun pendapat mengenai safar dihari Jum’at yaitu:

1. Atha’ dan Qasim bin Muhammad bahwa beliau tidak suka untuk keluar untuk keluar di tengah hari Jumat.
2. Al Hasan dan Ibnu Sirin mengatakan tidak mengapa bepergian di waktu Jumat selagi belum masuk waktu atau belum didirikan shalat Jumat.
3. Israil dari Ibrahim bin Muhajir dari An Nakh’i menyatakan bahwa ketika seseorang ingin bepergian ketika hari Kamis, maka bepergianlah ketika pagi menjelang siang. Jika dan ketika hari menjelang sore maka jangan pergi sehingga dia shalat Jumat.
4. Atha’ dari Aisyah bahwa ketika seseorang menemui malam Jumat maka jangan pergi sampai menunaikan shalat Jumat.
5. Ibrahim, Allah berfirman Dialah yang menjadikan bumi dhalulan maka berjalanlah di manakibiha, bahwa ayat ini mengindikasikan bolehnya bepergian di waktu kapanpun tanpa ada batas waktu.
Hal tersebut sudah dhahir (jelas) dalam hukum malam jumat, sebelum masuk waktu zawal asy syams, dan bolehnya safar ketika keduanya. Yang pasti dilarang adalah setelah zawal asy syams, sebab seseorang akan menjadi orang yang terikat kewajiban shalat (ahlul khitab). Dan mengenai Firman Allah, ketika telah dikumandangkan shalat di hari Jumat maka menujulah untuk megingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, terdapat suatu komentar: tidak ada perselisihan dalam ayat ini bahwa perintah tersebut tidak dikhususkan untuk musafir, tetapi hukum fardhu shalat berkaitan dengan akhir waktu masuk waktu sholat. Maka ketika seseorang bepergian dan ketika masuk sholat dia dalam keadaan musafir, maka dia tidak termasuk ahlul khitab.
Ketika sholat itu telah ditunaikan maka betebarlah di muka bumi dan carilah anugerah Allah. Al Hasan dan Dhahak berkata bahwa ini merupakan izin dan keringanan yang Allah berikan. Abu Bakar mengatakan ketika ayat sebelumnya menerangkan tentang keharaman jual beli, maka ayat setelahnya menjelaskan tentang kebolehan dan terlepas dari hukum haram. Seperti ayat ketika kalian sudah bertahalul maka berburulah. Ada sebuah komentar: mencari anugerah Allah itu dengan cara taat dan berdoa kepada Allah. Ada lagi yang berkomentar mencari anugerah Allah itu dengan berdagang dan semacamnya. Dan pendapat kedua merupakan pendapat yang lebih kuat, sebab indikasi ayat sebelumnya melarang transaksi.
Abu bakar berkata secara kontekstual ayat carilah anugerah Allah itu merupakan kebolehan berjual beli. Allah berfirman, ada orang-orang yang mencari anugerah Allah dan ada juga yang berperang di jalan allah. Maka ayat carilah anugerah Allah adalah carilah anugerah Allah dengan berdagang. Hal ini juga diindikasikan oleh potongan ayat setelahnya yakni dan ingatlah Allah selalu. Dan dalam ayat betebarlah di muka bumi dan carilah anugerah Allah juga menunjukkan hukum bolehnya bepergian setelah shalat Jumat.

Sumber: https://vds.co.id/

Posted on: September 3, 2020, by :