Karakteristik Ibu

Karakteristik Ibu

Karakteristik Ibu

Karakteristik Ibu
Karakteristik Ibu

2.1.Umur
Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk yang hidup maupun yang mati. Semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang diperoleh sehingga seseorang dapat meningkatkan kematangan mental dan intelektual serta dapat membuat keputusan yang bijaksana dalam bertindak. (Sarwono, 2005.)
Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama. Umur mempunyai hubungan dengan tingkat keterpaparan, besarnya risk serta sifat resistensi. Perbedaan pengalaman terhadap masalah kesehatan/penyakit dan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh umur individu tersebut. (Noor, 2000).
Umur merupakan salah satu dari faktor sosial yang juga mempengaruhi status kesehatan seseorang dan berdasarkan golongan umur maka dapat dilihat ada perbedaan pola penyakit. (Kresno, 2000).
Hasil penelitian Suswanto (2000) juga didapatkan sebagian besar variabel penelitian berhubungan dengan cakupan vitamin A antara lain umur ibu, tingkat pendidikan, pengetahuan dan keaktifan ibu dalam organisasi masyarakat.

2.2.Pendidikan 
Pendidikan adalah suatu konsep guna mencapai suatu tujuan (perubahan tingkah laku). Perilaku manusia adalah refleksi dari berbagai gejala kejiwaan antara lain tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang. Tahap pendidikan sangat menentukan kemampuan seseorang dalam mengatasi berbagai masalah dalam kehidupannya. (Sarwono, 2005)
Pendidikan memegang peranan penting terhadap kesuksesan pelaksanaan pemberian vitamin A. Begitu juga terhadap ibu-ibu, ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian vitamin A, semakin tinggi pendidikan ibu maka semakin menambah wawasan ibu mengenai vitamin A. (Sarwono, 2005)
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang di harapkan oleh pelaku pendidikan. Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan yakni :
a. Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat) dan pelaku pendidikan.
b. Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain).
c. Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku) (Notoatmodjo, 2003)
Menurut Soekanto (2004) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran agar secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Disebutkan jenjang pendidikan dibagi menjadi pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Yang termasuk dalam pendidikan dasar yaitu SD/Sederajat dan SLTP/Sederajat, pendidikan menengah yaitu SLTA/sederajat, sedangkan pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah menengah yang mencakup Diploma (D3), Sarjana, Magister, Spesialis dan Doctor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. (Sarwono, 2005)
Berdasarkan hasil penelitian Darniati (2009) ibu yang berpendidikan dasar cenderung memberikan vitamin A pada balitanya sebanyak 40 %, begitu juga dengan ibu yang berpendidikan menengah yaitu 40 %, sedangkan ibu yang berpendidikan tinggi memberikan vitamin A pada balitanya sebanyak 50 %.
Hasil penelitian Semba, et. All (2010) tentang program cakupan kapsul vitamin A dan faktor risiko yang berhubungan dengan non-penerimaan vitamin A di Bangladesh didapatkan bahwa tingkat pendidikan formal ibu yang tinggi lebih cenderung mendapatkan cakupan kapsul vitamin A yang baik dibandingkan dengan tingkat pendidikan formal yang rendah.

Sumber : https://vhost.id/

Posted on: December 23, 2019, by : 9faxj