KEUNGGULAN KOOMPRATIF DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

KEUNGGULAN KOOMPRATIF DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

KEUNGGULAN KOOMPRATIF DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

KEUNGGULAN KOOMPRATIF DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Potensi kakao memiliki

prospek yang baik dalam pengembangannya yang mampu mengisi peluang pasar. Semakin melonjaknya harga komoditi pertanian yang berorientasi ekspor khususnya kakao, maka petani terdorong untuk meningkatkan produksi yang akhirnya mendapatkan pendapatan atau keuntungan yang lebih tinggi.
Keberhasilan sutau usaha tani tergantung bagaimana kemapuan, pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki petani itu sendiri. Pada tahap produksi, terdapat beberapa hal yang dapat dilihat sebagai faktor-faktor produksi, yaitu faktor alam, faktor modal, faktor tenagakerja, dan faktor teknologi serta proses kerja petani yaitu pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan panen. Petani kakao dapat menjual hasil produksi kakao melalui para pembeli yang biasa disebut sebagai pengepul/pengumpul. Para pengumpul ini datang ke desa hanya 1 minggu sekali yaitu pada hari sabtu. Selain pengumpul mingguan, ada juga para pengumpul yang dapat membeli biji kakao setiap hari, hanya saja harga beli yang ditawarkan sedikit murah. Petani kakao biasanya menjual hasil produksi setiap 3 hari sekali setiap 1 minggu sekali. Tidak ada tempat transaksi khusus, petani dapat menunggu para pengumpul datang ke rumah mereka. Namun ada juga petani yang membawanya ke tempat pengumpul untuk dijual.
Harga kakao dengan kualitas yang baik biasanya dijual dengan harga Rp. 15.000-Rp 25.000/ Kg. Semakin baik kualitasnya semakin tinggi harga jualnya. Sebaliknya kakao dengan kualitas rendah biasanya dijual berkisar Rp.9.000/Kg, semakin rendah kualitasnya maka semakin rendah harga jualnya.
Keinginan yang besar dari petani untuk tetap menjaga ke-eratan hubungan sosial sering memaksa dan menghilangkan rasionalitas petani dalam berbisnis. Artinya, kebanyakan petani di pedesaan lebih cenderung untuk menomor-satukan hubungan resiprositas sosial dibandingkan dengan keuntungan bisnis semata, meskipun bisnis kakao tersebut merupakan penyokong kehidupan ekonomi keluarga. Realitas seperti ini bukan sesuatu yang mustahil adanya, karena sampai saat ini, di pedesaan masih banyak dijumpai pengepul/pengumpul, disamping berperan sebagai pembeli produksi kakao, juga masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan petani petani kakao lain; baik itu sebagai mertua/famili, atau pemberi dana bagi kehidupan rumah tangga, dsb. Jadi karena hubungan patron-client tersebut sudah bercampur aduk dengan hubungan sosial kekeluargaan, maka hubungan resiprositas dan keterikatan sosial tersebut, pada akhirnya dapat menyulitkan posisi petani dalam adu tawar-menawar dalam proses penentuan harga bagi produksi kakaonya. Karenanya kebanyakan mereka, suka atau tidak, terpaksa atau rela, mereka pasrah dan menerima harga yang telah ditentukan (sepihak) oleh para pengepul.
Hal lain yang juga berperan ikut menentukan tingkat pendapatan petani adalah rantai pemasaran kakao, sebab kenyataan menunjukkan bahwa banyaknya lapisan pedagang yang terlibat, sehingga menjadikan rantai tataniaga kakao di sini cukup panjang, dan kondisi demikian sudah merupakan suatu fenomena lama. Petani tidak pernah bisa langsung dalam memasarkan produksi kakaonya kepada pabrik atau pedagang eksportir karena tidak adanya mitra. Panjangnya rantai tataniaga itu berakibat kepada rendahnya harga jual di tingkat petani, karenanya petani hanya bisa menerima harga kakao apa adanya.
Ditingkat petani, sebagian petani mencari informasi harga kepada petani lain yang telah melakukan penjualan atau kepada pedagang pengumpul lainnya yang bukan menjadi langganannya. Tetapi sebagian besar petani hanya menerima informasi harga dari pedagang langgananya karena factor kepercayaan. Kondisi tersebut tentunya tidak menguntungkan bagi petani karena pedagang pada umumnya memberikan informasi harga yang memberikan keuntungan baginya, sebagai suatu penerapan kekuatan daya beli. Walupun demikian para petani lebih senang membudidayakan tanaman kakao. para petani mengakui Pola hidup sudah berubah, baik cara makan, cara berpakaian, pola interaksi, dan mobilitas sosial. Dari segi rumah tangga, jika dahulu rata-rata rumah dengan atap nipa, sekarang sudah berubah menjadi atap seng, bahkan sudah banyak yang memiliki rumah permanen yang terbuat dari batu. Perabot rumah dengan beberapa stel kursi tamu dan beberapa buah lemari sudah dimiliki. Bahkan hampir semua rumah sudah memiliki televisi. Pemilikan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, sudah tersebar sampai ke pelosok-pelosok desa. Untuk alat komunikasi, orangtua maupun anak-anak rata-rata sudah memiliki handphone.
Selain itu tanaman kakao sebagai tanaman berkayu sebagai penggunaan modal ekologis yang paling efektif untuk meningkatkan keseimbangan sistem-sistem pertanian dataran tinggi. Perubahan ekologis ini memberikan kontribusi positif untuk mencegah terjadinya erosi dan banjir. Tanaman berkayu salah satu penyebab pada pembabatan hutan, namun ketika hutan musnah ternyata tanaman kakao sebagai tanaman berkayu dapat tampil dijadikan alat peremajaan hutan dan menjadi hutan produksi.
Posted on: July 6, 2020, by :