Kewajiban Orang Yang Menemukan Barang Temuan

Kewajiban Orang Yang Menemukan Barang Temuan

Orang yang menemukan barang temuan wajib mengenal ciri-cirinya dan jumlahnya kemudian mempersaksikan kepada orang yang adil, lalu ia menjaganya dan mengumumkan kepada khalayak selama setahun. Jika pemiliknya mengumumkan di berbagai media beserta ciri-cirinya, maka pihak penemu (harus) mengembalikannya kepada pemiliknya, meski sudah lewat setahun. Jika tidak, maka boleh dimanfa’atkan oleh penemu.

Sesuai dengan hadist yang diriwayatkan al Bukhari dari Ubay bi Ka’ab, Dia berkataSaya pernah menemukan sebuah kantong berisi (uang) seratus Dinar, kemudian saya datang kepada Nabi saw (menyampaikan penemuan ini), kemudian Beliau bersabda, “Umumkan selama setahun”. Lalu saya umumkan ia, ternyata saya tidak mendapati orang yang mengenal kantong ini. Kemudian saya datang (lagi) kepada Beliau, lalu Beliau bersabda, “Umumkanlah ia selama setahun”. Kemudian saya umumkan ia selama setahun, namun saya tidak menjumpai (pemiliknya). Kemudian saya datang (lagi) kepada Beliau untuk ketiga kalinya, lantas Beliau bersabda, “Jaga dan simpanlah isinya, jumlahnya, dan talinya. Jika suatu saat pemiliknya datang (menanyakannya), (maka serahkanlah). Jika tidak, boleh kau manfaatkan.’’

Adanya ketentuan waktu satu tahun itu dalam riwayat diatas mengandung ajaran moral yang tinggi. Didalamnya terselip ketentuan bahwa Islam tidak membenarkan adanya pengambilan harta orang lain, dan karena Islam mengajarkan bahwa bila seseorang menemukan sesuatu yang bukan haknya maka ia dituntut supaya bersungguh-sungguh  mencari siapa pemilik barang temuan itu. Istilah satu tahun bisa diartikan akan keseriusan Islam mendidik umatnya supaya tidak terburu-buru mengambil sesuatu untuk dijadikan miliknya kalau hal itu tidak diperoleh melalui usahanya sendiri secara halal.

Dari ‘Iyadh bin Hammar R.a bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mendapatkan barang temuan, maka hendaklah persaksikan kepada seorang atau dua orang yang adil, kemudian janganlah ia mengubahnya dan jangan (pula) menyembunyikan(nya). Jika pemiliknya datang (kepadanya), maka dialah yang lebih berhak memilikinya. Jika tidak, maka barang temuan itu adalah harta Allah yang Dia berikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

Jika pemungut berkata,” Siapa yang kehilangan barang berharga ( emas atau perak ) maka sebutkanlah sebagian sifat-sifat kantong dan sejenisnya. Jangan menyebutkan secara keseluruhan. Tujuannya supaya hal tersebut tidak dijadikan sandaran oleh pihak yang berdusta. Jika dia menyebutkan secara menyeluruh dikhawatirkan akan menderita kerugian. Pemungut diwajibkan menyimpan luqathah di tempat penyimpanan yang sepadan dengan jenis luqathah tersebut karena luqathah adalah amanah, seperti amanah amanah lainnya.

Pengumuman luqathah dilakukan dipasar, pintu masuk masjid, dan tempat lainnya seperti tempat perkumpulan, pertemuan, keramaiaan pasar selama satu tahun, sesuai dengan hadist Zaid al Zuhani yang telah disampaikan. Sebab tempat semacam itu lebih memudahkan untuk menemukan pemilknya. Menyampaikan pengumuman didalam masjid hukumnya makruh, kecuali Masjidil Haram, karena mempertimbangkan ketentuan umum yang berlaku, dan karena Masjidil Haram tempat berkumpulnya banyak orang, sama seperti masjid nabawi dan Masjid Aqsha.

 

Sumber :

https://littlehorribles.com/

Posted on: July 10, 2020, by :