Manajemen Penawaran Jasa

Manajemen Penawaran Jasa

Istilah produk dapat didefinisikan sebagai “serangkaian atribut tangible dan intangible, termasuk manfaat atau utilitas fungsional, sosial, dan psikologis” (Pride & Ferrell, 1991). Pine & Gilmore (1998), membedakan lima macam bentuk produk, yaitu komoditas, barang, jasa, pengalaman, dan transformasi. Kotler (2000) mendefinisikan produk sebagai “segala sesuatu yang bias ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan”. Dengan demikian, cakupan produk relatif luas, karena bias berupa barang, jasa, gagasan, tempat, orang/pribadi, organisasi, maupun kombinasinya.

Kotler (2000) mengidentifikasi adanya keragaman dalam penawaran produk. Menurutnya ada lima macam kategori penawaran produk sebagai berikut:

  1. Produk Fisik Murni

Penawaran semata-mata hanya terdiri atas produk fisik, misalnya pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci, dll, tanpa ada jasa atau pelayanan yang melengkapinya.

  1. Produk Fisik Dengan Jasa Pendukung

Kategori ini berupa produk fisik yang disertai dengan satu atau beberapa jasa pelengkap untuk meningkatkan daya tarik produk bagi para konsumen. Contohnya, produsen mobil melengkapi produknya dengan berbagai jasa pendukung, seperti jasa pemeliharaan dan reparasi, penggantian dan pemasangan suku cadang, dll.

  1. Hybrid

Dalam kategori ini, komponen jasa dan barang sama besar porsinya.

  1. Jasa Utama yang Dilengkapi dengan Barang dan Jasa Minor

Penawaran terdiri atas suatu jasa pokok bersama-sama dengan jasa tambahan (pelengkap) dan/atau barang-barang pendukung. Contoh, sekalipun penawaran utama perusahaan penerbangan adalah jasa transportasi, produk fisik tetap dibutuhkan (misalnya pesawat, makanan, minuman, serta bahan bacaan selama penerbangan).

  1. Jasa Murni

Penawaran hampir seluruhnya berupa jasa. Misalnya fisioterapi, konsultasi psikologi, jasa tukang pijat, dll.

Bebko (2000) menyusun kategorisasi produk jasa berdasarkan karakteristik intangibilitas proses dan hasil (outcome). Berdasarkan tipologi tersebut, sebuah proses disebut intangible apabila tidak ada bukti fisik (evidence) yang bisa dialami langsung oleh pelanggan, sedangkan tangible process adalah proses yang memiliki sejumlah bukti bagi konsumen untuk dievaluasi. Lebih lanjut, Bebko (2000) mengidentifikasi 4 level intangibilitas hasil jasa, yakni sebagai berikut:

sumber :
https://www.urusizin.co.id/battlefield-combat-black-ops-apk/

Posted on: June 22, 2020, by :