Pakistan Basmi Ekstrimisme lewat Bangku Sekolah

Pakistan Basmi Ekstrimisme lewat Bangku Sekolah

Pakistan Basmi Ekstrimisme lewat Bangku Sekolah

Pakistan Basmi Ekstrimisme lewat Bangku Sekolah
Pakistan Basmi Ekstrimisme lewat Bangku Sekolah

Walaupun terancam sewaktu-waktu diserbu, sebuah sekolah di daerah Pashtun,

Pakistan, yang konservatif, membuka pintunya bagi murid perempuan.

Shama dan teman sekelasnya mengenakan seragam dan menyanyikan lagu anak-anak. Ini sebuah gambaran yang lazim di sekolah-sekolah modern di pusat-pusat kota yang lebih makmur di Pakistan.

Tapi, gadis cilik berusia 7 tahun ini tidak berada di daerah seperti itu. Ia belajar di sebuah ruang kelas yang gelap tanpa aliran listrik di Pashtun, sebuah desa miskin di daerah yang terkenal konservatif.

Dalam beberapa tahun terakhir, para militan Islam memiliki pengaruh besar di seluruh Provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Serangan biadab yang sering mereka lakukan menjadikan ibukota provinsi Peshwawar yang dulu dikenal tentram ini, kini berada dalam keadaan waspada. Sekolah, terutama yang berani mendidik anak perempuan, terancam sewaktu-waktu diserang.

Tapi sekolah Shama tersebut, yang dioperasikan oleh sebuah lembaga amal lokal di Mathra, sebuah desa di pinggiran Peshawar, berdiri sebagai tempat yang tenang dan terbuka bagi semua orang. “Saya senang dengan semuanya di sekolah ini,” kata Shama. “Saya suka belajar di ruang kelas maupun bermain di luar.”

Campuran antara Tradisional dan Modern

Sekolah Shama yang didirikan enam tahun lalu oleh Yayasan Pendidikan Baacha Khan, nama yang diambil dari seorang tokoh Pashtun terkenal. Ini adalah salah satu dari 14 sekolah serupa yang dijalankan yayasan tersebut dengan tujuan membantu melawan gelombang ekstremisme di wilayah tersebut.

Gambar bola dunia yang dibuat Shama dan teman-teman sekelasnya bertuliskan “Dunia Tanpa Kekerasan.”

Gambar bola dunia yang dibuat Shama dan teman-teman sekelasnya bertuliskan “Dunia Tanpa Kekerasan.”
Ini dimulai dengan upaya mengakhiri budaya kekerasan di dalam kelas. Walaupun hukuman cambuk dan pemukulan murid yang bahkan berusia lebih muda dari Shama merupakan yang biasa di sekolah-sekolah Pakistan, baik di madrasah yang disponsori negara atau lembaga swasta yang eksklusif, tapi hukuman fisik dilarang di sini.

Pendekatan pendidikan yang diambil adalah campuran dari metode modern dan tradisional Pashtun yang mempromosikan komunitas dan komitmen terhadap pluralisme. Perempuan merupakan mayoritas dari 3.000 siswa di sekolah tersebut, dan sebagian besar gurunya adalah perempuan. Untuk mempersiapkan siswa lebih baik di untuk masa depan, pendidikan keterampilan didorong, bukan hapalan.

Tariq Rahim, guru seni Shama, mengatakan bahwa ia menggunakan puisi Pashtu

dan cerita rakyat untuk membantu murid-muridnya menggali sisi kreatif mereka. “Kami ingin siswa kami senang saat belajar. Kami tidak memiliki budaya diam di sini,” kata Rahim. “Mereka bisa berbicara dengan bebas dan tidak pernah dimarahi jika mereka diam. Kami tidak menghukum. Kami ingin mereka untuk berhenti berpikir tentang kekerasan yang mereka lihat di sekitar mereka.”

 

Sumber :

https://www.surveymonkey.com/r/RZMNGXN

Posted on: July 23, 2019, by : 9faxj