Pendidikan Jarak Jauh Harus Tetap Utamakan Mutu dan Kualitas

Pendidikan Jarak Jauh Harus Tetap Utamakan Mutu dan Kualitas

Pendidikan Jarak Jauh Harus Tetap Utamakan Mutu dan Kualitas

Pendidikan Jarak Jauh Harus Tetap Utamakan Mutu dan Kualitas
Pendidikan Jarak Jauh Harus Tetap Utamakan Mutu dan Kualitas

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan

angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia yang saat ini masih tertinggal dari negara lain.

Meski begitu, dalam menyelenggarakan PJJ, Kemristekdikti tetap menomorsatukan kualitas dan mutu pendidikan. Pasalnya, di awal perkembangan PJJ di Tanah Air, kualitas pendidikannya masih jauh bila dibandingkan dengan program konvensional. Hal ini terjadi karena infrastrukur relatif terbatas.

Demikian diungkapkan Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rochmat Wahab.

Pada era digital ini, Rochmat menilai, potensi PJJ harus lebih baik. Pasalnya, jaringan internet, multimedia, dan berbagai instrumen teknologi informatika sudah memadai sehingga peluang PJJ lebih terbuka. Maka dalam implementasinya, mutu program harus dijaga.

“Sekarang bagaimana pengembangan dan implementasi PJJ harus didukung dengan aturan yang ada

dengan mutu seimbang. Jika ditelusuri, dari awal perkembangan PJJ, sebagian besar masyarakat belum bisa menerima dengan baik lulusannya. Parameter yang digunakan untuk menakar kualitas program dan hasil pendidikan di antaranya adalah reputasi institusi seperti akreditasi institusi, reputasi program studi PJJ, reputasi koordinator program yang meng-handle PJJ, serta materi dan pengemasan bahan. Ini harus diperhatikan,” kata mantan rektor UNY ini kepada Suara Pembaruan, Senin (24/9) pagi.

Selanjutnya, Rochmat menambahkan, pemerintah harus mempertimbangkan mahasiswa yang terjaring. Mereka harus memiliki kualifikasi untuk bisa mengikuti PJJ. Pemerintah juga harus menjamin mahasiwa yang mengikuti PJJ dapat bekerja mandiri tanpa adanya pengawal. Di samping itu, dosennya harus memiliki literasi digital.

Lebih lanjut Rochmat menyebutkan, pengembangan paket PJJ harus kreatif dan inovatif.

Isi materi yang dikembangkan selalu terbarukan dan menggunakan pengembangan desain visual untuk memotivasi mahasiswa.

Secara terpisah, Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia (FRI), Asep Saefuddin, mengatakan, penyelenggaraan PJJ sangat penting untuk meningkatkan budaya masyarakat melanjutkan pendidikan tinggi. Apalagi saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) akan memperluas jaringan internet ke seluruh Indonesia.

 

Baca Juga :

Posted on: August 19, 2019, by : 9faxj