PERAN TANAMAN KAKAO DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

PERAN TANAMAN KAKAO DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

PERAN TANAMAN KAKAO DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

PERAN TANAMAN KAKAO DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Karena sangat dibutuhkannya komoditas kakao ini baik di pasar lokal maupun internasional, maka sebagai produsen terbesar, Indonesia perlu untuk merevitalisasi usaha agribisnis kakao. Dimana revitalisasi usaha agribisnis kakao ini diarahkan untuk penyediaan kakao bagi industri-industri lokal maupun internasional, peningkatan pendapatan petani sebagai  produsen kakao dan peningkatan sumber pendapatan Negara. Kekayaan alam kakao yang dimiliki Indonesia yang berlimpah harus tetap dijaga bahkan perlu ditingkatkan melalui kebijakan-kebijakan pemerintah dan kerjasama dengan petani kakao maupun kerjasama luar negeri agar Indonesia tetap menjadi produsen kakao terbesar di dunia. Selain itu tanaman kakao sebagai tanaman berkayu sebagai penggunaan modal ekologis yang paling efektif untuk meningkatkan keseimbangan sistem-sistem pertanian dataran tinggi. Perubahan ekologis ini memberikan kontribusi positif untuk mencegah terjadinya erosi dan banjir. Tanaman berkayu salah satu penyebab pada pembabatan hutan, namun ketika hutan musnah ternyata tanaman kakao sebagai tanaman berkayu dapat tampil dijadikan alat peremajaan hutan dan menjadi hutan produksi.

            Indonesia sendiri adalah negara produsen utama kakao dunia. Tercatat seluas 1,4 juta hektar dengan produksi kurang lebih 500 ribu ton pertahun, menempatkan Indonesia sebagai negara produsen terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Pantai Gading, dengan luas area 1,6 Ha dan produksinya sebesar 1,3 juta ton per tahun dan Ghana sebesar 900 ribu ton per tahun.

            Pertumbuhan perluasan kebun kakao di Indonesia dari tahun 2000 hingga 2009 meningkat sebesar 8 persen. Tercatat pada tahun 2009 perkebunan kakao di Indonesia meningkat menjadi 1.432.558 Ha. Perkebunan kakao tersebut sebagian besar dikelola oleh rakyat dan selebihnya dikelola perkebunan besar negara serta perkebunan besar swasta.

            Luas perkebunan tersebut menunjukan bahwa kakao di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat. Mengingat biji kakao maupun produk olahan kakao adalah komoditit yang diperdagangan secara internasional. Indonesia termasuk negara pengekspor penting dalam perdaganagan biji kakao. Karena dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana dan kakao Indonesia mempunyai keunggulan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka.

            Meskipun demikian, agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao.

            Untuk pengembangan dan peningkatan daya saing produk kakao, pemerintah telah mengeluarkan serangkaian kebijakan produksi dan perdagangan produk olahan kakao. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk meningkatkan daya saing dengan meningkatkan produk olahan kakao. Namun, industri pengolahan kakao di Indonesia hingga saat ini belum berkembang, bahkan tertinggal dibandingkan negara-negara produsen olahan kakao yang tidak didukung ketersediaan bahan baku yang memadai, seperti Malaysia. Pengembangan daya saing diperlukan untuk meningkatkan kemampuan penetrasi kakao dan produk kakao Indonesia di pasar ekspor, baik dalam kaitan pendalaman maupun perluasan pasar. Peningkatan daya saing dapat dilakukan dengan melakukan efisiensi biaya produksi dan pemasaran, peningkatan mutu dan konsistensi standar mutu.


Baca Juga :

Posted on: July 6, 2020, by :