PT Kereta Cepat Belum Juga Buatkan Gedung Baru SDN Tirtayasa

PT Kereta Cepat Belum Juga Buatkan Gedung Baru SDN Tirtayasa

PT Kereta Cepat Belum Juga Buatkan Gedung Baru SDN Tirtayasa

PT Kereta Cepat Belum Juga Buatkan Gedung Baru SDN Tirtayasa
PT Kereta Cepat Belum Juga Buatkan Gedung Baru SDN Tirtayasa

Sekitar dua pekan sejak rampungnya masalah pembebasan lahan, gedung baru Sekolah Dasar Negeri

(SDN) Tirtayasa, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, belum juga mulai dibangun.

Lahan seluas 1.240 meter persegi di Kampung Taman Cimekar, Desa Cibiruhilir, Kecamatan Cileunyi, itu masih terlihat kosong tanpa aktivitas apapun.

Kepala SDN Tirtayasa, Cicih Yuningsih, mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali berkomunikasi dengan pihak PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).

“Mereka belum memastikan kapan pembangunan dimulai, namun janjinya Desember 2019 beres,

” ujarnya, saat dihubungi wartawan, Senin (12/8/2019).

Cicih berharap, PT KCIC segera merealisasikan janji tersebut dengan dimulainya proses pembangunan.

Soalnya, ia tak ingin molornya pembangunan membuat para guru dan siswa harus lebih lama lagi beraktivitas di tempat penampungan sementara yang jauh dari kata nyaman.

Seperti diketahui, dikebutnya trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) oleh PT KCIC membuat bangunan lama SDN Tirtayasa tak lagi layak digunakan untuk tempat belajar dan mengajar.

Selain suara bising yang mengganggu konsentrasi belajar, debu dan gangguan lain juga membuat kesehatan dan keselamatan para siswa dan guru dipertaruhkan.

Oleh karena itu, sejak tahun ajaran baru 2019-2020, Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung pun mengungsikan siswa dan guru SDN Tirtayasa ke dua lokasi penampungan sementara, yaitu SDN 10 Cibiru Hilir dan SDN Mekarbiru. Jaraknya sekitar dua kilometer dari sekolah asal.

Menurut Cicih, siswa dan guru sejak awal merasa tidak nyaman berada di tempat

penampungan sementara itu. Bahkan kondisi tersebut membuat sekitar 20 siswa memutuskan pindah sekolah.

“Mungkin walau bagaimana pun para siswa merasa lebih betah di tempat sendiri daripada menumpang di perpustakaan dan rumah dinas sempit milik sekolah lain. Hal itu juga dirasakan oleh kami para guru dan kepala sekolah,” tutur Cicih.

Bagi guru, ketidaknyamanan jelas terasa karena di tempat penampungan sementara tidak tersedia ruang guru dan ruang kepala sekolah. Hanya ada ruangan kecil di belakang perpustakaan untuk berkumpul para guru.

Saking sempitnya ruangan tersebut, tak ada satu pun meja dan kursi yang bisa ditempatkan di sana.

“Akibatnya kami para guru biasanya duduk lesehan di lantai ketika memeriksa tugas atau pekerjaan rumah para siswa,” ujarnya.

Jika ingin sedikit lebih nyaman, kata Cicih, para guru memilih bekerja di meja di ruang belajar para siswa yang sempit. Atau ketika masjid kosong, mereka pun tak jarang memanfaatkannya untuk bekerja dengan lebih tenang.

 

Baca Juga :

Posted on: December 1, 2019, by : 9faxj