Sehari Masak 2.000 Paket Makanan untuk Korban Bencana

Sehari Masak 2.000 Paket Makanan untuk Korban Bencana

Sehari Masak 2.000 Paket Makanan untuk Korban Bencana

 

 

Waktu menunjukan jam 01.00 WIB dinihari

Para pengungsi korban bencana angin puting beliung tampak terlelap di titik pengungsian di wilayahnya masing-masing. Sementara di Posko Terpadu Penanggulangan Bencana yang berada di bekas bangunan pabrik PT IMMI, Cipaku, Bogor Selatan, Tim Dapur Umum dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Bogor terpantau disibukan dengan aktivitas memasaknya.

Ya, keberadaan Tim Dapur Umum menjadi salah satu perangkat yang cukup vital. Karena dapur di rumah warga hancur akibat dihantam angin puting beliung, beberapa waktu lalu.

Wakil Komandan Regu Dapur Umum Tagana Kota Bogor

Madsari (52), mengungkapkan ada 30 personel tim dapur yang siap melayani kebutuhan makanan korban bencana. “Jumlah tersebut dibagi dalam dua shift. Intinya kamis siap 24 jam. Kita juga dibantu sejumlah relawan dari karang taruna dan lainnya dalam melakukan pengemasan hingga distribusinya,” ungkap Madsari yang mengaku sudah 10 tahun bergabung menjadi Tagana.

Dengan kekuatan itu

Tim Dapur Umum mampu memproduksi rata-rata 2.000 porsi paket makanan untuk warga. “Hari pertama, kami memasak 2.000 paket lebih. Kemudian hari berikutnya 1.700-an, tergantung kebutuhan juga. Karena sebagian warga ada yang sudah pulang ke rumahnya atau masih bisa memasak di rumah karena dapurnya aman,” jelasnya.

Dari catatan Posko Terpadu Penanganan bencana

ada tiga lokasi pengungsian sementara warga, yakni di Majelis Al Barokah Kelurahan Cipaku, Masjid Khozinatus Sa’adah Kelurahan Lawanggintung, Masjid Nurul Hidayah dan Al Muhtadin Kelurahan Batutulis. Total yang mengungsi ada sekitar 298 KK atau lebih dari 1.000-an jiwa. kata kata bijak bahasa inggris singkat

Tidak sekedar menyajikan apa adanya, kata Madsari, ia bersama timnya memiliki standar tertentu dalam menyajikan sebuah masakan. “Ada standarnya. Kita dilatih oleh Kemensos. Jadi, standar makanan untuk korban bencana harus memiliki kandungan karbohidrat, protein dan serat. Itu wajib,” kata dia.

Ia mencontohkan

pada hari pertama Dapur Umum memasak nasi, telur, dan mie goreng. Kemudian hari kedua lebih variatif, ada nasi, sayur dan semur ayam. “Hari pertama, karena darurat jadi masak dengan bahan yang ada, tapi harus ada karbohidrat dan proteinnya. Setiap hari harus berbeda menunya, selain agar tidak bosan juga menyesuaikan dengan bahan yang ada di logistik. Kalau adanya ikan, ya ikan, ada daging ya daging, ada ayam ya ikan,” terangnya.

Ia mengaku

kebutuhan logistik untuk memasak sudah aman dan tercukupi untuk satu minggu kedepan. “Selain untuk korban, kami juga masak untuk kebutuhan relawan di lapangan,” tandasnya.

Sementara itu, dalam peninjauan di dapur umum Walikota Bogor Bima Arya berpesan agar quality control makanan yang disajikan untuk korban bencana harus benar-benar terjaga. “Pastikan bahan makanan tidak expired. Dapur umum juga harus steril agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keracunan makanan. Dan yang terpenting bantuan harus tepat sasaran, jangan sampai kebutuhan makan untuk petugas lebih banyak dari pada korban bencana. Pastikan selalu data distribusi supaya tidak ada warga yang merasa tidak menerima bantuan,” ungkap Bima Arya.

Posted on: February 22, 2019, by : 9faxj