Thaharah dari najis

Thaharah dari najis

Thaharah dari najis

Thaharah dari najis

Di dasarkan atas firman Allah

y7t/$u‹ÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ

Artinya: “dan pakaianmu bersihkanlah.”(Al mudatsir ayat 4).

  1. Macam-macam najis

Yaitu kencing, tahi, muntah, daarah, mani hewan selain manusia, nanh, cairan luka yang membusuk, bangkai, khamr, anjing, babi, susu binatang yang tidaak hahal dimakan keculai manusia, dan cairan kemaluan wanita.

Najisnya benda-benda tersebut dapat diketahui dengan:

  1. Hadits nabi saw yang diucapkan pada ammar, “engkau hanya perlu membasuh pakaianmu dari tahi, kencing, mani, mazi, darah, daan munta.”( HR Ahmad).
  2. Tugas dari nabi saw untuk menyiramkan air kekencing orang.
  3. Hadits dari Ali, “aku adalah hseorangg yang selalu keluar mazi, tapi aku malu bertanya kepada rasul saw, lalu kusuruh almiqdad, dan ia pun menanyakannya, “ nabi saw bertaanya “dibasuhnya zakarnya dan berwudhu”(HR Muslim).
  4. Di dalam ayat Al-qur’an disebutkan “ diharamkan bagimu makan bangkai, darah, daging babi….” (QS Al-maidah ayat 3).
  5. Cara menghilagkan najis

Dalam hal ini ada 3 macam cara membersihkan najis

  1. Cara menghilangkan najis dari jilatan anjing adalah membasuhnya dengan air sebanyak tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah berdasarkan dengan hadis rasulullah saw “ apabila anjung menjilat bejana seorang kamu maka hendaklah ia menumpahkan isinya dan membasuhnya tujuh kali” (HR Muslim). Selain itu menurut pendapat yang kuat didalam mazhab syafi’i ketentuan ini berlaku pula bagi sessuatu yang terkena najis babi dengan alasan pula bahwaa babi lebih buruk dari anjing. Untuk memperjelas lagi menurut mazdhab imam Syafi’i dan Hambali Anjing adalah najis. Bejana yang dijilat anjing harus dibasuh tujuh kali. Hanafi anjing adalah najis, tetapi bekas jilatannya boleh dicuci sebagaimana kita mencuci najis lainnya. Apabila diduga najisnya sudah suci, meskipun dibasuh satu kali, maka hal itu sudah cukup. Namun, jika diduga bahwa najisnya belum hilang, maka bekas jilatan itu harus dibasuh lagi hingga diyakini telah bersih, walaupun harus dibasuh dua puluh kali. Menurut imam Maliki annjing adalah suci dan bekas jilatannya tidak najis. Namun bejana yang dijilatnya harus dicuci semata-mata sebagai ibadah saja.
  2. Khusus untuk membersihkan yang terkena kencing anak laki-laki yang belum memakan makanan cukup dipercikkan dengan air. “ kencing anak perempuan dibasuh dan kencing anak laki-laki dipercik.” (HR Attirmizi). Menurut imam Syafi’i dan Hanafi menyucikan air kencing bayi laki-laki yang hanya minum air susu cukup dengan dipercikan air diatasnya. Namun, air kencing bayi perempuan harus dibasuh atau disiram. Menurut imam Maliki keduanya harus dibasuh dan hukum keduanya sama. Menurut imam Hambali air kencing bayi perempuan yang masih menyusu adlah suci.
  3. Cara membersihkan najis lainnya dibedaakan berdasarkan keadaan
  4. Najis ‘ainy harus dibasuh dengan air sehingga hilang rasa bau dan warnanya. Basuh ari yang wajib harinya sekali asalkan hilang rasa dan bau dan warnanya. Namun warna atau bau najis yang sulit dihilangkan dapat diabaikan dan basuhari dianggap bersih, walaupun salah satu bau atau warna darinajis masih tersisa. Akan tetapi jika kedua-dua warnanya dan bau masih ada basuhari masih belum bias dihukumkan bersih, sebaab itu menujukkan bahwa zat najis itu belum hilang.

Dalam sebuh hadits yang berasal dari Ibn umar “ mula-mula sholat itu adalah lima puluh kali, mandi jariabah tujuh kali, dan membasuh pakaian dari kencing tujuh kali. Namun, rasulullah terus-terusan meminta, sehingga sholat itu ditetapkan lima, mandi jariabah sekali dan membasuh dari kencing pun sekali.” (HR Abu Dawud).

  1. Najis hukmiy dapat dibersihkan dengan sekali mengalirkan air padanya.

https://kabarna.id/endless-apk/

Posted on: June 23, 2020, by :